YOGYAKARTA — Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Daerah Istimewa Yogyakarta (Kwarda DIY) berkesempatan mengirimkan delegasi pada kegiatan 33rd APR Scout Jamboree di Filipina pada tanggal 14-21 Desember 2025.
Delegasi Kwarda DIY dalam kegiatan internasional ini terdiri dari 1 peserta, yaitu Kak Theresia Diana Putri dan pembina pendamping atas nama Kak Renni Puji Hastuti bergabung bersama kontingen Indonesia yang berjumlah total 4 peserta, 2 pendamping, dan 1 pimpinan.
Kak Renni dalam keterangan tertulisnya menyampaikan bahwa 33rd APR Scout Jamboree di Filipina merupakan kegiatan jamboree internasional pertama yang ia ikuti bersama Putri, panggilan akrab pramuka berkebutuhan khusus dari SLBN 2 Bantul.
Selama satu minggu penuh sejak kedatangan pada hari Senin, 15 Desember 2025 di bumi perkemahan Botolan, provinsi Zambales hingga hari Minggu, 21 Desember 2025, ia mengikuti berbagai kegiatan bersama dengan hampir 25.000 peserta.
Peserta jamboree berasal dari 18 negara yaitu Australia, Bangladesh, Bhutan, Hongkong, India, Indonesia, Korea, Malaysia, Maldives, Mongolia, Nepal, Polandia, Sri Lanka, Taiwan, Thailand, Vietnam, Kuwait, dan Amerika Serikat.
“Peserta terbanyak dari Filipina yang merupakan perwakilan dari berbagai daerah,” ujar Kak Renni.
Kontingen dari Indonesia yang ikut kegiatan ini merupakan peserta Ticket to Life project Asia Pacific dan telah lolos seleksi nasional yang dilakukan oleh Kwartir Nasional.

Putri merupakan satu-satunya peserta dengan disabilitas tunarungu-wicara dari Indonesia dan termasuk tiga peserta berkebutuhan khusus dari seluruh peserta jamboree. Peserta tunarungu-wicara lainnya berasal dari Nepal sebanyak dua peserta.
Kegiatan hari pertama sejak kedatangan dimulai dengan pendirian tenda dan dilanjutkan dengan kegiatan pembukaan jamboree. Pembukaan jamboree dihadiri oleh seluruh peserta jamboree dari 18 negara yang membawa bendera masing-masing.
Pembukaan ini dihadiri pula oleh David Robert Baden Powell, cucu dari Baden Powell Bapak Pandu Dunia serta gubernur provinsi Zambales sebagai ketua jamboree.
Selanjutnya, kegiatan dimulai dari pagi hari hingga malam. Peserta bangun pukul 04.00 pagi, mandi, ibadah, dan sarapan. Pukul 06.00 kami sudah siap dengan kegiatan yang berisi delapan modul. Setiap modul terdiri dari enam hingga delapan bases (pos kegiatan).
“Setiap hari, kami harus menyelesaikan dua modul. Satu modul setelah sarapan dan satu modul setelah makan siang,” sebut Kak Renni.
Kegiatan-kegiatan setiap modul sangat bervariasi, contohnya kegiatan untuk menambah pengetahuan dan keterampilan untuk menjaga bumi, mengenal flora dan fauna, kesenian seperti tarian dan aksara kuno, permainan tradisional, pengembangan emosi dan karakter, ketangkasan fisik seperti memanjat, merayap, melewati tantangan, serta menunjukkan kegesitan dalam pioneering, pertolongan pertama pada kecelakaan, hingga membuat api dan api unggun sederhana.
Untuk kegiatan malam, ada kegiatan api unggun setiap sub-camp, festival kesenian Filipina, festival kesenian internasional, dan jamuan makan malam oleh pejabat setempat.
Pada kegiatan sub-camp, Kak Renni menyaksikan pentas drama, lagu, dan yel-yel dari teman-teman perkemahan. Kami menyaksikan pertunjukan dan kesenian lokal saat festival kesenian Filipina. Peserta juga berlatih untuk ikut serta dalam festival kesenian internasional.
Festival kesenian internasional dimeriahkan oleh penampilan dari empat belas negara. Tiga teman perwakilan dari Indonesia menunjukkan kebolehan dalam pencak silat dan dilanjutkan senam Gemu Fa Mi Re yang ditunjukkan oleh empat scouts Indonesia termasuk Putri.
“Kegiatan Jamboree ditutup pada Sabtu malam dengan api unggun, pentas, dan kembang api,” lanjut Kak Renni.
Pengalaman berkegiatan di 33rd APR Scout Jamboree sangat berharga baginya dan Putri. Putri berkesempatan untuk menunjukkan semua potensi yang dimiliki meskipun memiliki kebutuhan khusus.
Putri di antara hampir 25.000 peserta yang mendengar, menunjukkan keberanian untuk bersama-sama berkegiatan tanpa pengecualian, belajar untuk mempunyai banyak teman dari berbagai negara dan mengajarkan isyarat sederhana seperti abjad kepada teman-teman barunya, menunjukkan tanggung jawab dan kemandirian.
“Saya, sebagai bindamping berperan menjadi perpanjangan telinga dan mulut bagi Putri untuk berinteraksi dengan orang lain yang tidak bisa berbahasa isyarat seperti penjelasan dan instruksi dari pos-pos kegiatan,” jelasnya.
Kak Renni menegaskan bahwa keberanian dan kerja keras Putri lah yang membuatnya mendapat banyak teman, pengalaman, dan mampu mengikuti semua kegiatan hingga selesai.
Dari kegiatan dari 33rd APR Scout Jamboree di Filipina ini, Kak Renni menyampaikan bahwa menjadi peserta jamboree berkebutuhan khusus (tunarungu-wicara) di antara hampir 25.000 peserta yang mendengar sangatlah menantang.
“Menantang tanggung jawab, kerja sama, keuletan, kegesitan, kerja keras, keberanian dan berkomunikasi dengan teman-teman mendengar dari berbagai negara,” ujarnya.
Kegiatan jamboree yang padat dimulai dari pagi hari hingga malam hari dengan cuaca panas tidak hanya menuntut ketahanan fisik namun juga ketahanan psikis dan emosi.

Tantangan ini menurutnya mampu dijawab oleh Putri dengan kedisiplinan dan tanggung jawabnya mulai dari persiapan sebelum keberangkatan, saat keberangkatan, saat kegiatan, hingga setelah kegiatan dan kepulangan ke tanah air.
“33rd APR Scout Jamboree di Filipina merupakan kegiatan dan pengalaman yang sangat berharga bagi Putri dan saya sebagai bindampingnya,” kenang Kak Renni.
Kepada pramuka berkebutuhan khusus, khususnya tunarungu-wicara, Kak Renni menyebutkan bahwa Putri merupakan salah satu contoh bahwa hambatan yang dimiliki bukan menjadi alasan untuk tidak dapat berkembang.
Ia menegaskan pula bahwa dengan kedisiplinan, tanggung jawab, pengetahuan, keterampilan, kerja keras, dan keberanian, peserta pramuka berkebutuhan khusus pun mampu mengikuti kegiatan jamboree bersama peserta lain pada umumnya yang dihadiri oleh belasan negara dengan puluhan ribu peserta.
“Mereka perlu penghubung untuk berkomunikasi, namun kemandirian harus ada di dalam diri masing-masing,” tambah Kak Renni.
Kak Renni pun berharap, pramuka berkebutuhan khusus juga diberikan kesempatan mengikuti jambore-jambore lainnya bersama dengan peserta pramuka umum. Sehingga, kegiatan pramuka menjadi inklusif dan menjadi pengalaman langsung peserta pramuka berkebutuhan khusus untuk terjun dan berinteraksi dengan masyarakat umum.
Terkait kegiatan secara umum di Filipina, untuk mengikuti kegiatan jamboree internasional Kak Renni berpesan hendaknya dipersiapkan dengan baik dan menjadi tanggung jawab tiap peserta.
Seperti barang yang harus dibawa, yang harus dipakai, dan penggunaan Bahasa Inggris yang baik (reseptif dan ekspresif), karena semua instruksi dan penjelasan disampaikan dalam Bahasa Inggris. (cst)































