YOGYAKARTA — Andalan yang merupakan anggota dewasa Gerakan Pramuka adalah salah satu fungsionaris organisasi sesuai dengan Anggaran Rumah Tangga (ART) di antara 8 fungsionaris lainnya.
Fungsionaris Gerakan Pramuka yang dimaksud adalah Pembina pramuka; Pelatih pembina pramuka; Pembina profesional; Pamong saka; Instruktur Saka; Pimpinan Saka; Pimpinan Sako; dan Anggota majelis pembimbing.
Secara khusus, Andalan bertugas untuk membantu pengurus harian kwartir dalam penyelenggaraan kegiatan Kepramukaan di wilayah kerjanya dalam suatu urusan (bagian-bagian). Hal ini berlaku di semua tingkatan, baik Nasional, Daerah, Cabang, dan juga Ranting.
Sementara itu tersebut dalam Surat Keputusan (SK) Kwarnas No. 222 Tahun 2007, tentang Petunjuk Penyelenggaraan Organisasi dan Tata Kerja Kwartir Daerah Gerakan Pramuka terdapat setidaknya 3 tugas Andalan Daerah.
Yaitu memikirkan, merencanakan dan menyusun program kegiatan dalam urusannya masing-masing; mengawasi, meneliti dan melaksanakan program kegiatan yang bersangkutan sesuai dengan urusannya masing-masing; serta secara kolektif bertanggungjawab kepada Ketua Kwarda, melalui Wakil Ketua Kwarda bidang masing-masing.
Pondasi Struktural dan Manajerial
Peran seorang Andalan bukan sekadar pelengkap struktur, melainkan “motor penggerak” organisasi. Melalui tugas yang disebutkan seperti memikirkan, merencanakan, melaksanakan, mengawasi, dan meneliti, menunjukkan bahwa seorang Andalan memegang kendali penuh atas siklus manajemen (Planning, Organizing, Actuating, Controlling).
Tentu saja dengan demikian, Andalan tidak boleh pasif menunggu instruksi (top-down). Mereka harus proaktif menciptakan program (bottom-up) yang kemudian diselaraskan dengan visi Kwartir.
Jabatan Andalan tidak seharusnya diberikan hanya berdasarkan senioritas tanpa kompetensi yang relevan. Hal ini untuk menjadikan organisasi Kwartir lebih produktif dan efisien.
Terkait dengan tanggung jawab kolektif kepada Ketua Kwartir, menunjukkan bahwa meskipun bekerja di bidang masing-masing, kegagalan satu bidang adalah kegagalan tim. Hal ini jelas untuk menghapus sekat “ego sektoral.” Andalan-andalan harus sejalan, bukan saling menghambat.
Roda Penggerak di Era Digital
Gerakan Pramuka saat ini menghadapi tantangan relevansi, terutama di mata Generasi Z dan Alpha. Agar tugas-tugas dapat dijalankan dengan baik dan mengikuti perkembangan zaman, utamanya di era digital, tentu perlu berbagai penyesuaian atau sering disebut dengan istilah transformasi.
Banyak Andalan terjebak dalam rutinitas administratif, surat-menyurat dan rapat. Di era modern/digital saat ini, tugas memikirkan dan merencanakan harus diterjemahkan sebagai Inovasi Program yang tentu bisa berkelanjutan.
Menyalin program kerja sebelumnya atau copy-paste tentu sangat tidak disarankan. Perlunya data untuk merancang kegiatan yang lebih inovatif, menyasar target dengan pasti, serta punya dampak kebermanfaatan yang luas.
Jika terkait dengan peserta didik di era modern, perlunya dikaji apakah kegiatan ini diminati? Apakah berkemah masih relevan tanpa unsur teknologi? Dalam hal ini, andalan harus berani menawarkan konsep Smart Scouting.
Saat ini, kompetensi wajib bagi setiap andalan, apa pun bidangnya, adalah literasi digital. Semua bisa mengoptimalkan project management tools (seperti Trello, Asana, atau Google Workspace, dan lainnya) untuk memantau program, bukan lagi sekadar laporan kertas yang menumpuk.
Dalam era digital, semua andalan harus paham bahwa setiap kegiatan adalah konten. Branding positif Pramuka ada di tangan kemampuan Andalan mengemas kegiatan di media sosial.
Andalan perlu mempertajam kolaborasi eksternal yang agresif. Mungkin saja, kerjasama eksternal masih terbatas saat ini, sehingga Andalan harus menjadi jembatan ke pihak luar, baik pemerintah, swasta, serta komunitas global.
Sebagai contoh mungkin Andalan harus proaktif menggandeng CSR perusahaan, NGO lingkungan, atau komunitas teknologi. Pramuka tidak bisa berjalan sendiri dengan anggaran terbatas dan Andalan-lah yang harus mencari sumber daya melalui kemitraan strategis.
Hal yang penting lainnya adalah tentang inklusivitas dan fleksibilitas. Organisasi haruslah cair dan tidak kaku, sehingga Andalan harus memiliki pola pikir yang fleksibel (Agile).
Jika Andalan bertugas “mengawasi dan meneliti,” hal tersebut harus dilakukan dengan pendekatan humanis, bukan militeristik. Andalan perlu melakukan monitoring dan mencari solusi atas kendala di lapangan.
Jadi sudah seharusnya seorang andalan atau pengurus kwartir memang mereka yang mempunyai kompetensi di bidangnya, punya latar belakang yang baik, serta yang paling penting dapat diandalkan secara nyata.
CST



























