YOGYAKARTA — Tim Senam Pramuka Istimewa terus berlatih secara intensif dalam rangka menyempurnakan materi untuk video terbaru yang nantinya bakal menjadi rujukan untuk seluruh Pramuka di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Video yang saat ini sudah beredar luas adalah produksi dari Bidang Kebudayaan dan Pengembangan Kearifan Lokal sebagai pengampu program pada 2023 lalu dan tetap masih menjadi yang bisa dijadikan sebagai rujukan untuk belajar Senam Pramuka Istimewa.
Tim utama yang terdiri dari Kak Ari Hargiatmi, Kak Agus Margunaji, dan Kak Yuni, dibantu oleh dua orang tambahan dalam satu minggu terakhir ini telah dua kali melaksanakan latihan.
“Intinya dalam pembuatan Video yang kedua ini nanti pelan-pelan kita sempurnakan,” ujar Kak Ari, salah satu tim pengembang Senam Pramuka Istimewa, Kamis, 4 Desember 2025.
Ia menjelaskan bahwa latihan ini fokus pada penyeragaman gerak, serta nantinya akan lebih menekankan pada komponen-komponen tim seperti pada pembuatan film, misalnya pelindung, penanggungjawab, penata gerak, penata iringan, serta tim produksi.
Diketahui bahwa dalam rangkaian Senam Pramuka Istimewa ini, gerak dan musik secara keseluruhan sudah mewakili lima wilayah yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Yaitu Kulon Progo, Bantul, Gunungkidul, Sleman, dan Kota Yogyakarta.
“Karena ini olahraga atau senam, sudah ada aturannya, meski berpijak pada seni tradisi lokal,” sambung Kak Ari menjelaskan.
Lebih lanjut Kak Ari menginformasikan, pengambilan video yang sedianya akan dimulai pada hari Minggu, 7 Desember 2025, dengan beberapa pertimbangan akan dilaksanakan Rabu, 10 Desember 2025 mendatang dan target di bulan Desember ini sudah selesai semua.
Senam Pramuka Istimewa merupakan senam kreasi khas Kwartir Daerah Gerakan Pramuka DIY yang dirancang untuk meningkatkan kebugaran fisik dan mental anggota Pramuka, serta mengandung nilai-nilai budaya dan kearifan lokal Yogyakarta.
Senam yang dikenalkan secara luas pertama kali saat Apel Hari Pramuka ke-61 ini tidak hanya melatih tubuh agar lebih bugar untuk aktivitas yang lebih berat, tetapi juga diiringi dengan musik khas dari daerah-daerah di Yogyakarta. (cst)



























