YOGYAKARTA — Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Sleman dengan rekomendasi dari Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Daerah Istimewa Yogyakarta sedang menyelenggarakan Kursus Pelatih Pembina Pramuka Tingkat Dasar (KPD).
Kegiatan yang diikuti oleh 40 peserta tersebut dijadwalkan berlangsung dari tanggal 18 sampai dengan 24 November 2025 mendatang dengan tentunya materi yang sesuai kurikulum pada Sistem Pendidikan dan Pelatihan Gerakan Pramuka.
Target KPD bukan sekedar menambah jumlah, namun juga dalam rangka mencetak Pelatih Pembina Pramuka yang berkualitas, berintegritas, dan memiliki kompetensi yang dapat diandalkan.
Berikut ini adalah beberapa pendapat Kakak-Kakak Pelatih dari berbagai wilayah tentang seperti apa Pelatih Pembina Pramuka yang berkualitas dan beberapa hal lainnya.
Menurut Kak Sonny Prima Sanjaya, Sekretaris Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kepramukaan Tingkat Daerah (Pusdiklatda) Gerakan Pramuka Bali menyebutkan bahwa Pelatih Pembina Pramuka yang berkualitas adalah mereka yang menguasai materi, peraturan, metode pelatihan sesuai usia peserta pendidikan dan pelatihan.
“Serta mereka mampu membawakannya dengan baik untuk mencapai tujuan pembelajaran,” tegasnya.
Kak Sonny yang sudah punya berbagai pengalaman hingga tingkat nasional ini menekankan bahwa Pelatih Pembina Pramuka yang dibutuhkan saat ini adalah yang mampu merepresentasikan Gerakan Pramuka sebagai organisasi pendidikan non formal yang menjadi pilihan kaum muda.
Kak Luwes Traviari Agusta, sosok Pelatih Pembina Pramuka putri yang kini menjadi Ketua Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kepramukaan tingkat Cabang (Pusdiklatcab) di Sukoharjo secara tegas menyebutkan bahwa Pelatih harus mempunyai kompetensi sesuai lulusan KPD dan KPL.
Keteladanan dan pengetahuan, serta mampu atau terampil mentransfer apa yang dimilikinya, baik keterampilan dan pengetahuan ke pihak lain adalah ciri dari Pelatih Pembina Pramuka yang berkualitas.
Kak Luwes juga menekan bahwa saat ini, dibutuhkan sosok Pelatih Pembina Pramuka yang ahli strategi dan kaya metode, selain menjadi sosok teladan, terampil termasuk penguasaan Teknologi Informasi, serta pengetahuan tentang kepramukan.
“Komitmen dalam membimbing atau melatih,” imbuh Kak Luwes.
Lebih lanjut Kak Luwes juga menyebutkan bahwa setiap pelatih akan menjadi narasumber bagi pembina atau andalan, karena dianggap paling tahu, maka penting bagi mereka untuk menguasai hal-hal tentang kepramukaan.
Ia meyakini bahwa seorang Pelatih Pembina Pramuka akan jadi tempat bertanya, sehingga perlu juga sering membaca Petunjuk Penyelenggaraan, termasuk yang ter-update.
“Bagi saya pelatih harus tetap berlatih untuk ini,” tandasnya.
Pandangan Kak Luwes terkait kondisi Pelatih Pembina Pramuka saat ini, dari sisi inovasi, kreativitas, metode dan strategi kepelatihan mengalami peningkatan, di sisi penguasaan materi kepramukaan tetap sesuai dengan kurikulum.
“Di sisi materi yang mengandung ada unsur filosofinya dan keteladanan turun,” ungkapnya.
Sementara itu, Kak Christiono Riyadi, Pelatih Pusdiklatda DIY berpendapat, bahwa Pelatih Pembina Pramuka yang berkualitas itu memiliki kompetensi kepramukaan yang memadai, memiliki kemampuan andragogi dan pedagogi, memiliki kepemimpinan dan manajemen pelatihan, serta keteladanan karakter.
Pihaknya menegaskan bahwa secara umum, pelatih pembina Pramuka saat ini memiliki kompetensi yang baik, namun agak lemah dalam penguasaan andragogi.
“Keteladanan karakter baik, tetapi kepemimpinan dan manajemen pelatihan masih perlu dikembangkan,” ujar Kak Chris.
Terkait dengan bagaimana menjadi pelatih pembina Pramuka berkualitas, Kak Chris menyebutkan perlu lebih memperkuat kompetensi kepramukaan, meningkatkan kemampuan andragogi bukan hanya pedagogi, dan mengembangkan manajemen pelatihan.
Ditambahkan oleh Kak Luwes bahwa pelatih pembina pramuka itu harus “punya antena tinggi” yaitu selalu update dengan Petunjuk Penyelenggaraan (jukran) terbaru, dipelajari, dikaji, dan kemudian diikuti.
“Alhamdulillah kita berada dalam organisasi yang sudah tertata dan lengkap. Sebenarnya enak jalannya karena sudah ada jukran,” ujarnya.
Terkait dengan rasio jumlah pelatih pembina pramuka, Kak Sonny menyebutkan bahwa idealnya dalam 1 Pusdiklat ada 3 yang Pelatih tingkat Lanjut dan 5 Pelatih tingkat Dasar.
Kak Luwes juga memerinci dan menyebutkan jumlah ideal tergantung jumlah pembina, jumlah pembina juga tergantung dengan peserta didiknya.
“Kalau di pelatihan ya 1 pelatih pendamping dengan 8 peserta/pembina,” pungkasnya.
__
CST



























