YOGYAKARTA – Kwarda DIY memperingati Hari Baden-Powell ke-169 pada Minggu, 22 Februari 2026, bertempat di Aula Kwarda DIY, Bumi Perkemahan Taman Tunas Wiguna Babarsari, Sleman. Kegiatan ini diikuti secara luring dan daring oleh unsur Pengurus Kwartir yang terdiri dari Dewan Kerja, serta perwakilan Kwartir Cabang se-DIY.
Peringatan tahun ini mengangkat tema “Pramuka Adaptif Membawa Jejak Langkah Baden Powell ke Era Digital”, sebagai refleksi atas tantangan era yang semakin dinamis sekaligus merefleksikan nilai-nilai kepanduan tetap relevan dalam kehidupan modern.
Dalam sambutannya, Ketua Kwarda DIY, Kakak GKR Hayu yang dalam hal ini diwakili oleh Kakak Kak Danang Setiadi, S.IP., M.T., menekankan bahwa Hari Baden-Powell bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum untuk memperkuat pembinaan karakter kaum muda. Sejalan dengan arah gerakan kepanduan dunia melalui slogan “Ready for Life”, Pramuka DIY diharapkan mampu membentuk generasi yang siap menghadapi kehidupan secara utuh yaitu siap secara karakter, mental, dan keterampilan. Kak Danang juga menyampaikan bahwa konsep Pramuka Istimewa menjadi ruh gerakan pramuka di DIY, yakni pribadi yang adaptif terhadap perkembangan zaman namun tetap berakar pada nilai budaya dan Satya Darma Pramuka

Setelah pembukaan acara dilanjutkan dengan talkshow yang dipandu oleh Kakak Brillan Nala (Ketua DKD DIY), menghadirkan dua narasumber utama, Kakak Drs. Amik Setiaji dan Kakak Wahyu Naufal.
Kakak Amik Setiaji membahas transformasi sistem pembinaan agar selaras dengan karakter generasi masa kini. Beberapa poin penting yang disampaikan adalah perlunya keselarasan kebijakan pembinaan di tingkat kwartir dengan implementasi di gugusdepan, adaptasi metode pembinaan agar lebih dinamis dan kontekstual dengan gaya hidup digital, optimalisasi peran gugusdepan sebagai pusat pembentukan karakter, tantangan sistem pembinaan di tengah pergeseran minat generasi muda. Kak Amik menekankan bahwa transformasi bukan berarti meninggalkan metode klasik, melainkan mengintegrasikan teknologi dan pendekatan baru tanpa menghilangkan ruh kepanduan.
Sedangkan Kak Wahyu, dalam paparannya, mengangkat pentingnya membangun ulang citra Pramuka agar lebih dekat dengan generasi muda dengan membangun identitas visual dan gaya komunikasi yang menarik bagi generasi digital, optimalisasi media sosial sebagai ruang edukasi dan inspirasi, strategi konten kreatif yang interaktif dan tidak bersifat satu arah, reposisi Pramuka sebagai organisasi adaptif dan pusat kreativitas kaum muda. Kak Wahyu menekankan bahwa re-branding bukan berarti mengubah nilai dasar, tetapi mengemas ulang pesan agar lebih relevan dengan ekosistem digital saat ini.

Setelah acara talkshow kemudian dilakukan renungan, sesi ini adalah momen hening dan refleksi untuk mengenang sosok Kak Lord Robert Stephenson Smyth Baden-Powell of Gilwell, yang kita kenal sebagai Bapak Pandu Dunia. Beliau adalah pendiri gerakan kepanduan yang lahir dari gagasan sederhana namun visioner. Melalui perkemahan pertama di Pulau Brownsea pada tahun 1907, Baden-Powell memulai sebuah gerakan pendidikan nonformal yang kemudian berkembang menjadi gerakan kepanduan dunia. Nilai-nilai yang beliau tanamkan seperti kejujuran, kedisiplinan, kepedulian, keberanian, dan semangat pengabdian, menjadi fondasi yang terus diwariskan hingga kini.

Kegiatan peringatan ini diikuti sekitar 60–65 peserta secara luring serta peserta daring. Melalui peringatan Hari Baden-Powell ke-169 ini, Kwarda DIY berharap untuk terus menghadirkan pembinaan yang relevan, adaptif, dan bermakna bagi generasi muda. Ready for Life! Satu Pramuka untuk Satu Indonesia.(LA)



























