YOGYAKARTA — Bimbingan Teknis (Bimtek) Modul Panduan Integrasi Adaptasi Perubahan Iklim (API) Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Daerah Istimewa Yogyakarta (Kwarda DIY) dibuka hari ini, Kamis, 8 Mei 2025.
Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka yang dalam hal ini diwakili oleh Kak Mayjen TNI Mar. (Purn) Yuniar Ludfi, Wakil Ketua Kwarnas Bidang Pengabdian Masyarakat, Lingkungan Hidup, Kehumasan, dan Informatika hadir secara virtual dan menyampaikan sambutan pada pembukaan bimtek.
Dalam sambutan yang dibacakan, Ketua Kwarnas Kak Budi Waseso menyebutkan bahwa perubahan iklim telah menjadi tantangan global yang tidak bisa diabaikan. Indonesia berada dalam posisi yang rentan, dengan lebih dari 90% bencana alam dalam satu dekade terakhir.
“Berkaitan langsung dengan perubahan iklim, banjir, longsor, kekeringan, dan kebakaran hutan adalah dampak nyata yang sudah kita rasakan,” ujar Ketua Kwarnas seperti disampaikan Kak Yuniar Ludfi dari ruang Zoom.
Menurut Ketua Kwarnas Salah satu inisiatif strategis yang patut kita dukung adalah program FOLU Net Sink 2030 (Forestry and Other Land Use Net Sink 2030) yaitu upaya menurunkan emisi dari sektor kehutanan dan penggunaan lahan hingga mencapai keseimbangan antara emisi dan serapan karbon sebelum tahun 2030.
Ia menegaskan bahwa program tersebut tidak hanya mengandalkan restorasi hutan dan reboisasi, tetapi juga mendorong
partisipasi masyarakat dalam pengelolaan hutan berkelanjutan.
Sebagai bagian dari gerakan pendidikan nonformal terbesar di Indonesia, Gerakan Pramuka memiliki posisi yang strategis untuk mendukung FOLU Net Sink 2030.
“Kita dapat mengintegrasikan nilai-nilai konservasi hutan, pelestarian keanekaragaman hayati, dan aksi nyata adaptasi perubahan iklim ke dalam setiap latihan, kegiatan penjelajahan, hingga program bakti masyarakat,” tegas Ketua Kwarnas.
Melalui modul panduan yang akan diimplementasikan dalam Bimtek ini, Ketua Kwarnas berharap para Pembina Pramuka tidak hanya menjadi pendidik, tetapi juga fasilitator perubahan, pelopor gerakan hijau, dan penggerak aksi lingkungan di masing-masing satuan.
Ketua Kwarnas menyampaikan bahwa modul ini bukan sekadar buku pegangan, melainkan sebagai alat strategis untuk membantu para Pembina Pramuka memahami dan mengajarkan pendidikan adaptasi perubahan iklim secara terstruktur, kontekstual, dan aplikatif.
Penyusunan modul panduan ini, lanjut Ketua Kwarnas, tentu sangat penting, namun yang lebih penting lagi adalah bagaimana kita mengimplementasikannya secara nyata dan konsisten di lapangan.
Pihaknya mengajak seluruh peserta kegiatan Bimtek tidak hanya memahami isi modul ini, tetapi juga menjadikannya sebagai panduan utama dalam merancang dan melaksanakan kegiatan kepramukaan yang relevan dengan isu perubahan iklim.
Bimtek Modul Panduan Integrasi API Kwarda DIY akan berlangsung selama tiga hari sampai dengan Sabtu, 10 Mei 2025. Bimtek ini diikuti oleh 20 pembina pramuka utusan dari 5 kwartir cabang se-DIY dan menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai unsur terkait.
Seperti Plan International Indonesia, Kwartir Nasional (Kwarnas), Fasilitator Adaptasi Perubahan Iklim, Pusat Pengendalian Kementerian Lingkungan Hidup, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY, Kwarda DIY, dan Politeknik Kesehatan Kemenkes Yogyakarta. (cst)



























