Yogyakarta, 14 Agustus 2026 – Perubahan teknologi membawa cara baru bagi generasi muda untuk belajar, berkomunikasi, dan berkontribusi. Gerakan Pramuka pun perlu bergerak mengikuti perubahan tersebut. Di Daerah Istimewa Yogyakarta, semangat adaptasi itu diarahkan agar berjalan bersama nilai kepramukaan dan budaya lokal.

Semangat tersebut mengemuka dalam Peringatan Hari Pramuka di Daerah Istimewa Yogyakarta yang digelar di Aula Bumi Perkemahan Taman Tunas Wiguna, Babarsari, Caturtunggal, Depok, Sleman, Jumat (14/8/2026). Kegiatan ini dirangkai dengan sarasehan, Pergantian Antarwaktu (PAW) Pengurus Kwartir Daerah Gerakan Pramuka DIY Masa Bakti 2025–2030, serta ulang janji.

Saat membuka acara, GKR Hayu menyampaikan bahwa Pramuka saat ini perlu menjadi gerakan yang adaptif dan unggul. Anggota Pramuka perlu memiliki keterampilan digital untuk menjawab perkembangan zaman. Kemampuan tersebut tetap perlu berjalan dengan nilai dan adat ke-Jogja-an.
Pesan tersebut kemudian menjadi pintu masuk dalam sarasehan “Merawat Janji untuk Pengabdian Tanpa Batas”. Sarasehan mengajak peserta melihat kembali apa yang perlu dipertahankan, diubah, dan dimulai dalam perjalanan Gerakan Pramuka DIY.

Perubahan generasi dan teknologi berlangsung cepat. Kondisi ini membuat pengembangan sumber daya manusia menjadi kebutuhan penting. Pramuka perlu memastikan setiap kegiatan mampu memberi bekal yang dapat digunakan anggotanya dalam kehidupan nyata.
Pengabdian menjadi salah satu ukuran penting dalam proses tersebut. Mengikuti kegiatan saja belum cukup. Setiap proses kepramukaan diharapkan mampu membentuk perubahan pola pikir, sikap, dan pola komunikasi. Anggota Pramuka juga perlu memiliki keberanian untuk mengambil peran dan memberi kontribusi di lingkungannya.

Dari sana, pengabdian dipahami sebagai proses membangun manusia. Manusia menjadi penggerak organisasi. Sistem yang dibangun kemudian perlu mendukung lahirnya sumber daya manusia yang memiliki kemampuan dan karakter. Proses tersebut diharapkan membawa nilai Tri Satya menjadi bagian dari kehidupan anggota Pramuka.
Sarasehan juga menjadi ruang untuk merefleksikan identitas Pramuka DIY sebagai Pramuka Istimewa. Dedikasi terhadap keistimewaan dan pengabdian menjadi nilai yang perlu dipertahankan. Pada saat yang sama, cara bergerak dan cara bekerja perlu terus disesuaikan dengan tantangan zaman.

Pemaknaan pengabdian kemudian dirangkum melalui ungkapan “Demi kehormatanku”. Kehadiran seorang Pramuka dimaknai melalui tiga hal: hadir diri, hadir pikir, dan hadir hati. Kehadiran secara utuh menjadi dasar untuk menjalankan pengabdian dengan kesadaran dan tanggung jawab.

Pada Peringatan Hari Pramuka ke-65 berlangsung pula Pergantian Antarwaktu (PAW) Pengurus Kwartir Daerah Gerakan Pramuka DIY Masa Bakti 2025–2030. Pergantian kepengurusan menjadi bagian dari proses menjaga keberlanjutan gerakan sekaligus memastikan roda organisasi terus bergerak.
Pada malam harinya, rangkaian kegiatan ditutup dengan ulang janji anggota Gerakan Pramuka. Prosesi ini menjadi ruang untuk kembali meneguhkan komitmen terhadap pengabdian dan nilai-nilai kepramukaan.

Peringatan Hari Pramuka tahun ini pun membawa pesan yang lebih luas. Pramuka diharapkan mampu menyiapkan generasi yang terampil menghadapi perkembangan teknologi, memiliki karakter kuat, serta tetap memahami akar budaya tempatnya tumbuh.
Pada akhirnya, keberhasilan Pramuka bukan berhenti pada seberapa banyak kegiatan yang diikuti. Ukurannya adalah apa yang berubah setelahnya. Ada pengetahuan yang bertambah, sikap yang terbentuk, keterampilan yang digunakan, dan kontribusi yang dirasakan masyarakat. Di sanalah janji pengabdian menemukan maknanya.


























