Gubernur
Daerah Istimewa Yogyakarta
Amanat
APEL BESAR HARI PRAMUKA KE-65
TAHUN 2026
“Memantapkan Langkah Organisasi Mendukung Swasembada Pangan Menuju Indonesia Emas 2045”
Gunungkidul, 22 Agustus 2026
————————————————————-
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera bagi kita semua,
Salam Pramuka!
Yang saya hormati:
● Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Daerah Istimewa Yogyakarta beserta jajaran;
● Bupati Gunungkidul beserta jajaran Forkopimda;
● para Ketua Kwartir Cabang, para Majelis Pembimbing Cabang, para pembina dan pelatih;
● Anak-anakku anggota Pramuka yang saya banggakan.
KITA berhimpun hari ini, di bumi Gunungkidul. Tanah yang mengajarkan keteguhan. Batu karst, musim kemarau panjang, keterbatasan air, telah menjadi guru bagi masyarakatnya. Dari tanah seperti inilah manusia belajar, bahwa daya tahan tidak lahir dari kelimpahan, melainkan dari ketekunan mengubah keterbatasan menjadi kekuatan.
Selain itu, juga ada relevansinya, jika kita merefleksi kekhasan Pramuka Indonesia yang pernah diungkapkan oleh Sri Sultan HAMENGKU BUWONO IX, pada Kongres Kepanduan tingkat Dunia di Tokyo tahun 1971. Ketika itu, beliau mengucapkan pidatonya: “The Trend in Scouting”. Bahwa Pramuka tidak hanya dididik menjadi warganegara yang baik, tetapi juga manusia pembangun yang handal.
Sehingga, tepat kiranya, apabila tema Hari Pramuka ke-65 Tahun 2026, “Memantapkan Langkah Organisasi Mendukung Swasembada Pangan Menuju Indonesia Emas 2045,” menemukan tempatnya di sini.
Hadirin sekalian,
DALAM falsafah Hamemayu Hayuning Bawana, manusia dipanggil memelihara keselamatan dan keselarasan dunia. Diterapkan pada urusan pangan, falsafah ini mengajarkan, agar tanah tidak dikuras serampangan, air tidak disia-siakan, dan petani tidak dibiarkan berjalan sendiri. Produksi boleh ditingkatkan, tetapi kesuburan tanah harus dipulihkan. Teknologi boleh diterapkan, tetapi manusia dan alam tetap dimuliakan.
Dengan moralitas itulah, Pramuka DIY dapat mengambil peran dalam penguatan Lumbung Mataraman, sebuah reaktualisasi kebudayaan agraris Yogyakarta, yang menghidupkan pekarangan sebagai ruang produksi, keluarga sebagai simpul ketahanan pangan, dan kalurahan sebagai basis kemandirian.
Leluhur kita di tanah Mataram, hidup dengan laku yang sederhana: mangan apa sing ditandur, nandur apa sing dipangan. Makan apa yang ditanam, menanam apa yang dimakan. Bukan semboyan kosong. Itu adalah tata hidup yang membuat keluarga tidak bergantung pada apa yang jauh, dan tidak resah oleh apa yang tak pasti.
Pola itu kini perlu dihidupkan kembali dengan pengetahuan yang membumi. Dapat dipelajari warga, dirawat komunitas, dipakai petani kecil, kelompok wanita tani, dan anak muda.
Anak-anakku anggota Pramuka,
SERAGAM cokelat yang kalian kenakan, mengingatkan pada warna tanah. Tanah menerima benih dalam diam, lalu mengembalikannya menjadi kehidupan. Maka, seorang Pramuka, hendaknya juga mencintai tanah tempat pangan tumbuh. Cinta itu harus menjelma tindakan: menjaga bumi, menghemat air, menghormati petani, menanam pangan. Inilah kepanduan yang relevan dengan zaman. Tetap berakar pada Dasa Darma, namun bergerak dengan pengetahuan baru.
Indonesia Emas 2045 membutuhkan generasi yang sehat, cerdas, dan berakar pada bangsanya sendiri. Ketika anak-anak Pramuka menanam cabai di halaman sekolah, mendampingi warga menata pekarangan, atau mengajak sesama tidak membuang makanan, mereka sedang ikut menjaga masa depan bangsa.
Langkah itu mungkin tampak kecil. Namun, tak perlu berkecil hati. Sejarah sering dibangun dari satu langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten. Benih kecil dapat menjadi pohon. Satu gugus depan, dapat menjadi contoh bagi banyak orang.
Kepada para pembina, didiklah anak-anak kita mengenal pangan sejak dari prosesnya. Menyentuh tanah. Memahami benih. Menghargai hasil bumi. Kepada jajaran Kwartir, jadikan momentum ini tonggak penguatan organisasi. Jadikan Lumbung Mataraman, sebagai laboratorium sosial Pramuka.
Hadirin sekalian,
DARI Gunungkidul, kita mengirim pesan bagi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Indonesia: keterbatasan alam tidak boleh membuat manusia menyerah. Batu karst mengajarkan keteguhan. Pekarangan mengajarkan kemandirian. Pramuka mengajarkan pengabdian.
Dengan pemaknaan itulah, mari jadikan swasembada pangan sebagai gerakan kebudayaan, sekaligus gerakan kebangsaan. Gerakan kebudayaan, karena menuntun manusia hidup selaras dengan tanah dan sesama. Gerakan kebangsaan, karena memperkuat kedaulatan rakyat dari keluarga hingga kalurahan.
Semoga, ridha Tuhan Yang Maha Kuasa, senantiasa menaungi seluruh anggota Gerakan Pramuka Daerah Istimewa Yogyakarta, dalam memantapkan langkah organisasi, menguatkan pengabdian, dan bergerak bersama masyarakat.
Selamat Hari Pramuka ke-65 Tahun 2026. Satyaku kudarmakan, Darmaku kubaktikan.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Gunungkidul, 22 Agustus 2026
GUBERNUR
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Selaku Ketua Majelis Pembimbing
Kwarda Gerakan Pramuka DIY
HAMENGKU BUWONO X
























