YOGYAKARTA — Kak GKR Mangkubumi menerima penganugerahan Doctor of Humane Letters dari Northern Illinois University Amerika Serikat.
Penganugerahan tersebut dilaksanakan di Pendopo Agung Universitas Widya Mataram Yogyakarta pada Rabu, 28 Juni 2023 dengan prosesi yang penuh khidmat.
Berikut ini adalah Pidato Kak GKR Mangkubumi dalam Penganugerahan Gelar Doctor of Humane Letters,
Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas rahmat dan karunia-Nya, sehingga kita berjumpa dalam Penganugerahan Gelar Doctor Honoris Causa oleh Northern Illinois University pada hari ini dalam keadaan sehat.
Pertama-tama, saya ingin menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang setinggi- tingginya kepada President of Northern Illinois University, Professor Lisa C. Freeman, D.V.M., Ph.D. beserta seluruh delegasi dari NIU, yang telah menetapkan saya sebagai penerima Doktor Kehormatan atau Honorary Doctorate bidang Humane Letters, berdasarkan surat yang saya terima pada tanggal 8 Desember 2022 yang lalu.
Bagi saya, ini adalah penghargaan yang luar biasa yang diberikan kepada saya atas kiprah yang saya lakukan selama ini. Yang membuat saya merasa bersyukur adalah bahwa penghargaan ini diberikan oleh perguruan tinggi yang cukup terkemuka di dunia, yaitu Northern Illinois University.
Northern Illinois University atau NIU merupakan perguruan tinggi yang sudah memiliki sejarah akademik yang cukup panjang, berusia lebih dari satu seperempat abad, atau tepatnya sejak tahun 1895. Ribuan alumninya pun sudah tersebar ke seluruh dunia, termasuk di Indonesia, dan menjadi tokoh pendidik maupun tokoh-tokoh di pemerintahan. Dengan menerima penghargaan Doktor Honoris Causa ini, maka saya masuk dalam bagian dari kampus ini dan juga mempunyai tanggung jawab untuk menjaga nama baiknya.
Sidang Penganugerahan Doktor Honoris Causa Northern Illinois University yang terhormat. Inspirasi terbesar dalam hidup saya baik ketika sedang belajar, bekerja, dan berorganisasi berasal dari keteladanan para leluhur yang selalu mengajarkan kebaikan utama melalui filosofi dasar yaitu Hamemayu Hayuning Bawana yang merupakan salah satu ajaran sekaligus visi yang diusung oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I.
Hamemayu hayuning bawana adalah filosofi hidup untuk membuat dunia menjadi hayu (indah) dan rahayu (selamat dan lestari) yang dijabarkan menjadi tiga kategori nilai-nilai perilaku yang lebih aplikatif dan terukur sebagai berikut:
- Hubungan sebagai Insan dengan Tuhan dan Alam Semesta (Rahayuning Bawânâ Kapurbâ Waskitaning Manungsa) yang berarti kesejahteraan dunia itu tergantung pada kearifan manusia
- Hubungan sebagai Abdi Negara dengan Masyarakat (Dharmaning Satriya Mahanani Rahayuning Nagara) yang berarti darmabakti pamong praja sebagai tiang baku kesejahteraan Negara.
- Hubungan sebagai Makhluk Sosial (Rahayuning Manungsa Dumadi Karana Kamanungsana) yang berarti kesejahteraan manusia terjadi oleh rasa perikemanusiaannya.
Bagi saya, konsep dasar Hamemayu hayuning bawana merupakan “tuntunan” atau moral guidance agar sikap dan perilaku kita sebagai manusia selalu mengutamakan harmoni, keselarasan, keserasian, dan keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhannya, manusia dengan sesama manusia, dan manusia dengan alam lingkungannya.
Sidang Penganugerahan Doktor Honoris Causa Northern Illinois University yang terhormat. Saya belajar menambah ilmu pengetahuan maupun pergaulan sosial melalui dinamika dalam berbagai macam organisasi/lembaga, di antaranya Karang Taruna, KNPI, Gerakan Pramuka, Kadin DIY, dan lain lain.
Melalui organisasi/lembaga inilah, menjadi titik di mana saya menyadari bahwa, inilah dunia saya, karena saya bisa mendalami masalah-masalah sosial yang ada, seperti kesetaraan gender dalam penguatan pemberdayaan perempuan, problematika UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah), masalah lingkungan hidup, akses keadilan bagi masyarakat marginal, hingga isu-isu politik dan ketatanegaraan.
Pendidikan juga masuk dalam antusiasme saya. Pada tahun 2000, saya bersama teman- teman mendirikan Yayasan Anak Bangsa Mandiri yang fokus pada kurikulum sekolah agar para siswa dapat mempelajari Matematika dan Fisika dengan mudah dan menyenangkan. Selain itu, saya juga aktif dalam kepengurusan Yayasan Mataram Yogyakarta yang turut mendorong Universitas Widya Mataram (UWM) menjadi kampus berbasis budaya dengan membentuk Pusat Studi Budaya.
Hal lain yang menjadi fokus kegiatan keseharian saya adalah upaya pelestarian budaya Jawa. Kegiatan saya bukan saja sekedar membina berbagai komunitas budaya di DIY, namun juga ikut terlibat langsung dalam aktivitas budaya, termasuk sebagai penari, yang tampil tidak hanya di Indonesia, namun hingga ke mancanegara.
Saya aktif mengajak pemuda untuk turut terlibat dalam aktivitas budaya dan menjaga kelestariannya, sehingga nilai-nilai luhur dan warisan nenek moyang ini tidak hilang digerus zaman. Termasuk belum lama ini, bersama dengan beberapa kelompok pecinta keris di Yogyakarta, saya memfasilitasi Pagelaran Keris Nusantara dengan tema “Keris sebagai simbol dan identitas”.
Sidang Penganugerahan Doktor Honoris Causa Northern Illinois University yang terhormat. Sejak saat itu, saya semakin memantapkan hati untuk mengabdikan diri saya pada kegiatan-kegiatan sosial berbasis Gerakan Budaya, bergerak bersama masyarakat, utamanya di Yogyakarta.
Saya meyakini Gerakan Kebudayaan adalah membangun kualitas manusia. Hal ini dimulai dengan gerakan pencerahan atau penyadaran kembali akan makna dan tujuan hidup manusia (renaissance), yaitu meningkatkan kemanusiaan manusia itu sendiri (humanity).
Kualitas manusia yang unggul dapat dicapai apabila ia mampu memiliki kecerdasan akal (Intellectual Intelligence), kecerdasan emosional (Emotional Intelligence), kecerdasan spiritual (SpirituaI Intelligence), dan kecerdasan sosial (Social Intelligence) yang seimbang.
Dalam perspektif saya, Kebudayaan Yogyakarta harus dipahami sebagai “nilai-nilai dasar yang luhur, hasil cipta dan rasa yang mewujud dalam karsa dan karya yang menjadi jati diri masyarakat Yogyakarta” yang terdiri dari :
Budaya tak-bendawi (intangible) dan bendawi (tangible) yang dimiliki saat ini. Budaya tak bendawi (intangible) dan bendawi (tangible) potensial dari masa lampau yang belum tergali
Dalam Orasi Ilmiah Promovendus Sri Sultan Hamengku Buwono X yang berjudul “Pendidikan Karakter Berbasis Budaya”, dijelaskan bahwa pendidikan membutuhkan filsafat sebagai hasil perenungan dan pemikiran yang mendalam tentang pendidikan.
Yogyakarta memiliki kearifan budaya yang dikelompokkan dalam nilai-nilai filosofi (core beliefs) yaitu Sangkan-paraning dumadi, Hamêmayu-hayuning bawânâ, Manunggaling kawulâ-Gusti (dalam dimensi vertikal), dan nilai-nilai budaya (core values) yaitu Mangasah-mingising budi, mêmasuh-malaning bumi, sawiji, grêgêt, sêngguh, ora-mingkuh, Pamênthanging gandhéwâ, pêmanthênging ciptâ, dan Manunggaling kawulâ-gusti (sikap golong-gilig dalam dimensi horizontal, yakni kesatuan sikap rakyat dan pimpinan, atau kawula Ngayogyakarta dan Raja Ngayogyakarta Hadiningrat).
Keteladanan Budaya sebagai sumber inspirasi untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat harus dimulai dari kesadaran individu untuk menerapkan prinsip-prinsip kepemimpinan efektif dan inspiratif sebagai pengejawantahan falsafah kehidupan secara holistik.
Sidang Penganugerahan Doktor Honoris Causa Northern Illinois University yang terhormat. Inspirasi yang bersumber dari keteladanan budaya akan membuahkan perilaku budaya dalam sebuah kemuliaan martabat manusia. Semangat kepanduan dari Eyang Sri Sultan Hamengku Buwono IX telah menjadi inspirasi budaya sekaligus keteladanan budaya bukan hanya bagi kami, namun juga bagi bangsa Indonesia dan dunia.
Salah satu keteladanan dan inspirasi dari beliau adalah dorongan solidaritas sosial dan pendidikan yang inklusif. Keberlanjutan inspirasi budaya bukan hanya menjadi kekuatan dan efektifitas suatu kepemimpinan, namun juga bisa menjadi kekuatan untuk mensejahterakan masyarakat serta melestarikan alam semesta.
Ada beberapa inisiatif yang terus berlanjut sebagai bagian dari upaya untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat, di antaranya adalah upaya saya dalam melakukan koordinasi Forum CSR Nasional di Indonesia, SD Tumbuh sebagai sekolah dengan model pendidikan inklusif, berbagai program green economy untuk selalu menjaga kelestarian alam, pelayanan pembangunan ekonomi yang inklusif dan kolaboratif melalui Kamar Dagang dan Industri (KADIN) dengan spirit inklusif dan kolaboratif, berbagai kegiatan sosial, konservasi satwa liar, serta menjaga pelestarian alam di Kawasan Merapi dan kawasan lain di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dalam momentum bersejarah ini, perkenankan saya menghaturkan terima kasih dan penghormatan yang tinggi kepada Yang Terhormat Sri Sultan Hamengku Buwono X, President of Northern Illinois University, Profesor Lisa C. Freeman, D.V.M., Ph.D. dan Guru Besar Northern Illinois University, Professor Eric Jones, Ph.D. beserta jajaran yang telah memberikan persetujuan Penganugerahan Gelar Doctor Honoris Causa kepada saya, serta segenap Civitas Academica Universitas Widya Mataram yang memungkinkan terselenggarakannya sidang senat terbuka ini.
Saya juga menyampaikan terima kasih atas kehadiran Bapak/Ibu tamu undangan yang terhormat dalam mengikuti pidato ini. Kehadiran Bapak/Ibu sangat berarti bagi kami beserta Kerabat Keraton.
Izinkan saya untuk menutup pidato ini dengan kutipan dari Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. “Pengaruh suatu teladan yang baik jauh lebih bermanfaat daripada suatu teguran tajam.” (Sri Sultan Hamengku Buwono VIII)
Semoga Gelar Doctor Honoris Causa ini menjadi pendorong semangat, kehormatan, legacy, dan inspirasi terus menerus bagi saya untuk berperan serta mewujudkan keadaban dunia yang lebih baik.
Sekian, dan terima kasih atas perhatiannya. Wassalamu’alaikum Wr. Wb.



























