KULON PROGO — Tari Atji, sebuah karya kolaboratif yang diproduksi oleh Dinas Pariwisata Kulon Progo meriahkan Pembukaan Perkemahan Wirakarya Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) 2025.
Sebanyak 50 seniman tampil memukau dihadapan peserta upacara pembukaan Perkemahan Wirakarya DIY 2025 yang dilaksanakan di Lapangan Kampung Pramuka Sokorojo, Wijimulyo, Nanggulan, Kulon Progo, Jumat, 4 Juli 2025.
Disebutkan bahwa Tari “Atji” merupakan karya kolaboratif yang menggambarkan perjalanan menyatunya kekuatan jiwa, tradisi, dan semangat dari lima wilayah di DIY.
Dengan filosofi nyawiji dan semangat wirajaya, tari ini mengangkat nilai-nilai gotong royong, keberanian, ketekunan, dan keharmonisan.
Gerakan-gerakannya menggambarkan perjalanan dari keragaman menuju kesatuan, dari tradisi menuju transformasi budaya yang dinamis namun tetap berakar.
Karya ini disutradari oleh Kak Joko Mursito, S.Sn., M.A. dengan penata tari Kak Suhari Ratmoko S.Pd.; Penata Iringan Kak Ponang Merdugandang, S.Sn.; Penata Busana dari Move Art Dance; serta pendukung tari dan musik adalah Sanggar Move Art Dance dan Aldabra.
Diceritakan dalam setiap gerak tari ini terdiri dari 6 adegan utama, yaitu Wijiing ati (benih hati), Kebangkitan Semangat dari Tari Angguk Kulon Progo; Perjuangan dalam Harmoni, Tari Montro Bantul; Kebijaksanan Alam dan Jiwa, Tari Jathilan Sleman, dan diakhiri dengan Epilog Nyawiji.
“Lima arah telah berpadu. Lima wilayah menyatu. Atji kini bukan hanya sebuah gerak – ia adalah jiwa Daerah Istimewa Yogyakarta, dalam semangat Wirajaya,” demikian disampaikan narator tari Atji ini.
Bahwasanya Pramuka tak sekadar menjaga warisan, tapi menumbuhkan peradaban. Nyawiji, Angayomi, Ngrembaka Budaya dalam satu lingkaran kesatuan, berdiri teguh, karena dari hati yang menyatu, lahirlah kejayaan bersama. (cst)



























