KULON PROGO — Sebuah talkshow menarik diselenggarakan pada Malam Wira Pertiwi dalam rangkaian kegiatan Raimuna Cabang (Raicab) Kulon Progo 2025.
Bertempat di Balai Budaya dan Kampung Tradisional Tuksono, Sentolo, Kulon Progo, Minggu, 15 Juni 2025, talkshow dengan tema Menjaga Akar Budaya Lokal di Tangan Pramuka Penegak dan Pandega ini menghadirkan tiga narasumber.
Yaitu Kak Zainuri, Lurah Tuksono; Kak Harminto Wakil Ketua Kwartir Cabang Kulon Progo Bidang Pembinaan Anggota Dewasa; serta Kak Arifin Budiharjo, Wakil Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Daerah Istimewa Yogyakarta (Kwarda DIY) Bidang Pembinaan Anggota Muda.
Dalam kesempatan itu, Kak Zainuri sebagai aparatur pemerintahan kalurahan menyampaikan tentang potensi di Kampung Tradisional yang ia pimpin. Ia juga mengutarakan keinginannya bisa membentuk Kampung Pramuka di wilayah tersebut, sehingga bisa bersinergi dan berkolaborasi lebih jauh.
Kak Zainuri menjelaskan bahwa salah satu produk unggulan di Tuksono adalah kerejinan anyaman. Produknya sudah go internasional, salah satunya di eskpor ke Eropa. Ia juga menunjukkan contoh kerajinan tas yang terbuat dari pohon gebang-agel.

Lebih lanjut Kak Zainuri juga menyebutkan bahwa lokasi ini menjadi yang pertama digunakan untuk Raicab Kulon Progo dan masih terus dikembangkan fasilitasnya. Pihaknya juga meminta saran serta arahan dari Kwarda DIY agar Balai Budaya dan Kampung Tradisional Tuksono bisa lebih bermanfaat ke depannya bagi Gerakan Pramuka.
Sementara itu, Kak Harminto, berkaitan dengan tema ia menyebutkan bagaimana peran pramuka dalam melestarikan budaya lokal, salah satunya tentu apa yang ada di Tuksino itu sebagai Kampung Tradisional.
Kak Harminto juga berharap seluruh pihak, baik itu masyarakat, kwartir, dan anggota gerakan pramuka khususnya di Kulon Progo dapat menguatkan potensi Tuksono agar bisa menjadi rintisan Kampung Pramuka.
Pihaknya juga mengajak para peserta Raicab Kulon Progo 2025 untuk introspeksi, sejauh mana peran kita dalam melestarikan budaya, cinta terhadap budaya sendiri.
Misalnya menurutnya tentang budaya unggah-ungguh (sopan santun), pramuka harus bisa menempatkannya dengan baik, dan hal ini akan mempunya dampak positif, khususnya bagi label Pramuka Istimewa dalam pelestarian budaya.

Terkait dengan Pramuka Istimewa dan Kampung Pramuka, Kak Arifin menjelaskan filosofi dan hal-hal dasar lainnya. Bahwa untuk bisa menjadi Pramuka Istimewa, dengan menempuh syarat-syarat kecakapan yang sudah ditentukan sesuai pedoman yang telah dibuat.
Bagaimana agar pramuka bisa mengetahui tentang budaya di sekitarnya, bisa dengan berinteraksi bersama keluarga, tetangga, serta masyarakat. Karena dari situlah, pramuka itu bisa berperan langsung di masyarakat.
Kak Arifin menyampaikan pula bahwa untuk bisa menjadi Kampung Pramuka sudah ada pedoman yang bisa dijalankan, mulai dari kajian-kajian, bagaimana mengidentifikasi potensi, pembentukan kelompok kerja.
Tentu saja ada tahapan yang perlu dipenuhi misalnya seperti Standar Persyaratan Minimal Kampung Pramuka, Penahapan Pembentukan Kampung Pramuka, Verifikasi Kampung Pramuka, hingga Penetapan Kampung Pramuka. (Nar/cst)



























