YOGYAKARTA — Dalam rangkaian kegiatan Pelatihan Pembudayaan Nilai-Nilai Pancasila di Era Digital untuk membangun kepemimpinan berkarakter bagi generasi muda, para peserta mendapatkan wawasan baru mengenai pentingnya manajemen konflik sebagai bagian dari keterampilan kepemimpinan dan kehidupan bermasyarakat.
Sesi ini dipandu oleh Kak Anis Ilahi Wahdati yang menggunakan sebuah instrumen yang disesuaikan dengan bagaimana kepribadian peserta menyelesaikan permasalahan dengan pendekatan nilai-nilai.
Para peserta diminta untuk mengisi sebuah kuisioner, menekankan bahwa konflik merupakan hal yang wajar dan tidak dapat dihindari dalam interaksi manusia.
“Namun, yang terpenting adalah bagaimana setiap individu mampu mengelola konflik secara bijak, dengan mengedepankan komunikasi terbuka, empati, dan semangat gotong royong sebagaimana terkandung dalam sila ketiga dan keempat Pancasila,” ujar Kak Anis.
Melalui intrumen yang ada, peserta dapat mengetahui seperti apa cara mereka dalam menyelesaikan permasalahan. Setelah menyelesaikan instrumen yang ada, para peserta menuliskan initsial nama di papan yang disediakan dalam 5 kuadran.
Kak Anis kemudian menjelaskan kelompok-kelompok kuadran penyelesaikan konflik ini yang terdiri dari sifat kura-kura, hiu, beruang, rubah, dan juga burung hantu.
Dari kelima karakter penyelesaian konflik ini, diharapkan para peserta bisa mengelola konflik berdasarkan situasi dan kondisi. Seorang pemimpin akan tahu kapan harus berorientasi pencapaian tujuan secara optimal, kapan mengutamakan terjaganya hubungan yang harmonis.
Dari intrumen yang diisi oleh para peserta, kecenderungan dari hasil yang dituliskan adalah rata-rata mempunyai gaya burung hantu dalam mengelola konflik. (cst)



























