YOGYAKARTA — Salah satu materi yang disampaikan kepada para peserta Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Lanjutan (KML) Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Daerah Istimewa Yogyakarta (Kwarda DIY) Tahun 2025 adalah penguatan muatan lokal.
Materi disampaikan pada hari kedua kegiatan, Sabtu, 26 Juli 2025 di Kompleks Bumi Perkemahan Taman Tunas Wiguna Babarsari dengan menghadirkan pemateri Kak Suraji Widarta, S.Pd.
Penyampaian materi ini menjadi momen penting untuk menanamkan nilai-nilai keistimewaan DIY dalam pendidikan kepramukaan melalui Pramuka Istimewa. Nampak para peserta menyanyikan tembang Macapat Gambuh di awal sesi ini.
Dalam kesempatan tersebut, Kak Suraji menjelaskan tentang konsep Pramuka Istimewa di DIY. Lahirnya Undang-undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan DIY juga menjadi tonggak penting bagi Gerakan Pramuka.
Undang-undang tersebut memberikan semangat baru untuk mengembangkan program dan kegiatan kepramukaan berbasis budaya dan kearifan lokal, yang kemudian dikenal sebagai Pendidikan Pramuka Istimewa.
“Hal ini sejalan dengan visi Kwartir Daerah Gerakan Pramuka DIY, yaitu Terwujudnya Pramuka Istimewa sebagai Generasi Unggul,” ujar Kak Suraji.

Kak Suraji kemudian menyampaikan tiga pesan utama dalam rumusan konsep Pramuka Istimewa, salah satunya, pendidikan ini harus menanamkan nilai-nilai keistimewaan sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 13 Tahun 2012 dan Perda DIY Nomor 4 Tahun 2011 tentang Tata Nilai Budaya Yogyakarta.
Peserta kemudian diajak mendalami konsepsi Pramuka Istimewa, yang didefinisikan sebagai Pramuka yang melaksanakan Satya dan Darma Pramuka, memiliki pengetahuan memadai tentang keistimewaan DIY, serta mengamalkan nilai-nilai budaya luhur Yogyakarta.
Materi berikutnya membahas Profil dan Tujuan Pramuka Istimewa. Disebutkan bahwa profil Pramuka Istimewa menggambarkan kemampuan seorang Pramuka dalam memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, tiga hingga lima tahun setelah lulus dari program kecakapan ini.
“Adapun salah satu tujuan utama dari program ini adalah mendidik dan membina Pramuka DIY yang berkarakter, berbudaya, dan mampu menjadi agen perubahan dalam pembangunan daerah,” tegas Kak Suraji.
Sebagai penutup, seluruh peserta bersama-sama menyanyikan lagu tradisional Gundul-Gundul Pacul sebagai simbol semangat pelestarian budaya dan persatuan.



























