YOGYAKARTA — Kak Kingkin Suroso, Dewan Penasihat Yayasan Tunas Bakti Indonesia Emas menjadi narasumber dalam Pelatihan Pembudayaan Nilai-Nilai Pancasila yang digelar di Cakra Kembang Yogyakarta.
Di hari keempat pelaksanaan pelatihan, Minggu 26 Oktober 2025, Kak Kingkin mengawali materinya dengan perkenalan singkat sekaligus sharing pengalaman serta kiprahnya di Gerakan Pramuka, salah satunya di Saka.
Diketahui bahwa Kak Kingkin merupakan penggerak Saka Bahari, sebagaimana ketugasannya sebagai anggota TNI Angkatan Laut dengan berbagai jabatan yang pernah diembannya.
Kak Kingkin kemudian mengajak para peserta yang merupakan perutusan dari 6 Kwartir Daerah di Indonesia untuk menggambar peta dan sekilas menjelaskan bahwa bentuk dari peta tersebut merupakan satu kesatuan tanah air yang tak terpisahkan.
“Hal ini meneguhkan pemahaman kita tentang pilar kebangsaan ke-3 yaitu NKRI dalam dimensi Kesatuan Wilayah,” tegasnya.
Lebih lanjut Kak Kingkin menjelaskan bahwa masyarakat nusantara mengetahui bentuk wilayah negara bermula dari pemikiran para pendiri bangsa, pendahulu, yang sejatinya titisan atau keturunan raja-raja zaman dulu.
“Mereka mempelajari tentang kejayaan kerajaan-kerajaan itu di masa lalu,” sambungnya.
Menurutnya, dengan armada niaga dan angkatan lautnya yang sangat kuat di bawah panglima laut Laksamana Nala, Majapahit, berhasil menaklukkan dan mempersatukan raja-raja, tidak saja seantero nusantara, namun kekuasaannya melebar sampai Asia Tenggara dan Tiongkok.
“Para pendahulu bangsa berkesimpulan bahwa Siapa yang Menguasai Laut maka dia akan berjaya,” ujarnya.

Dari perjuangan para pendahulu kita didukung oleh pimpinan dari negara-negara kepulauan yang memiliki pandangan yang sama, akhirnya membawa hasil dengan ditetapkannya UNCLOS (United Nation Conference of the Low of the Sea) pada 1982. Diketahui bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia.
Melalui paparannya, Kak Kingkin juga menjelaskan secar rinci letak geografis Indonesia di antara negara-negara ASEAN dengan pisisi pada silang strategis.
Terkait dengan poros maritim dunia, Kak Kingkin menjelaskan bahwa hal tersebut bertujuan untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat kegiatan maritim dunia yang memiliki makna penting geografis, politik, dan budaya.
“Poris maritim dunia adalah strategi pembangunan Indonesia yang komprehensif, mencakup pembangunan infrastruktur, pengembangan ekonomi, diplomasi, dan pertahanan maritim untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara maritim yang kuat dan berdaulat,” tegas Kak Kingkin.
Kemudian dijelaskan pula bahwa Indonesia dengan berbagai kondisi dari jumlah pulau, posisi di antar benua, keanekaragaman hayati, niscaya akan mampu menjadi negara maritim.
Kak Kingkin juga menyampaikan bahwa potensi Maritim Indonesia terdiri dari beberapa sektor yang sudah terukur, seperti sektor perikanan, pariwiisata, tambang, energi, dan transportasi laut.
Terdapat lima pilar Indonesia Poros Maritim Dunia adalah (1) Membangun Kembali Budaya Maritim, (2) Mengelola Sumber Daya Laut, (3) Pengembangan Infrastruktur dan Konektivitas Maritim, (4) Mengembangkan Diplomasi Maritim, (5) Membangun Kekuatan Pertahanan Maritim.
Dari paparan juga disebutkan bahwa Kak Kingkin mengungkapkan terkait peran pemuda termasuk anggota Gerakan Pramuka dalam mendukung hal ini, yaitu mengembangkan ekonomi maritim, meningkat kesadaran maritim, serta mengembangkan sumber daya manusia.
Tidak hanya itu, pemuda bisa mengambangkan inovasi dan teknologi, berpartipasi dalam pengambilan keputusan, mengembangkan industri maritim, serta mengawal kedaulatan maritim.
“Dengan demikian, kita semua berharap adik-adik pemuda/pramuka akan menjadi agen perubahan yang signifikan dalam mewujudka Indonesia sebagai poros maritim dunia,” pungkas Kak Kingkin.
Diketahui bahwa pelatihan ini diselenggarakan oleh Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Daerah Istimewa Yogyakarta (Kwarda DIY) didukung oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila dan Yayasan Tunas Bakti Indonesia Emas. (cst)



























