SLEMAN — Rangkaian Pengembaraan Akhir Tahun (Barata) Sleman ke-40 pada hari kedua, Senin, 29 Desember 2025, dimeriahkan dengan Pasanggiri Olah-Olah yang mengangkat kuliner tradisional putu mayang, atau dalam sebutan Jawa lebih dikenal dengan nama petulo.
Kegiatan ini dilaksanakan di kawasan perkemahan Lapangan Pojok, Pakem, dan diikuti oleh seluruh peserta Barata Sleman ke-40.
Pasanggiri Olah-Olah ini menjadi salah satu giat prestasi yang bertujuan melatih kreativitas, kerja sama, serta keterampilan mengolah makanan tradisional.
Para peserta ditantang untuk mengolah putu mayang dengan memperhatikan cita rasa, tampilan, kebersihan, serta kekompakan sangga dalam proses memasak.
Pelaksanaan giat didampingi oleh Sangga Kerja Barata Sleman ke-40 dan dinilai oleh juri yang terdiri dari Kak Handarti Ningsih, Kak Fadhila Rahma Ningtyas, serta Kak Nurain Abdu Rahman. Para juri melakukan penilaian secara menyeluruh berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan.
Meskipun peserta telah menempuh perjalanan pengembaraan yang cukup jauh, semangat dan antusiasme tetap terlihat selama pelaksanaan pasanggiri. Setiap sangga berupaya menampilkan hasil olahan terbaik dengan tampilan yang menarik dan cita rasa yang khas.
Dalam kesempatan tersebut, Kak Handarti Ningsih menyampaikan kesan dan harapannya terhadap pelaksanaan giat ini. Ia mengapresiasi semangat para peserta yang tetap mampu berkreasi setelah melalui pengembaraan.

“Saya memberikan apresiasi kepada adik-adik, karena meskipun telah menempuh pengembaraan yang cukup jauh, mereka tetap bisa melanjutkan giat, berkreasi, dan menunjukkan semangat dalam membuat masakan tradisional yang cantik serta memiliki cita rasa yang enak,” ujarnya.
Lebih lanjut, Kak Handarti Ningsih juga menyampaikan harapan agar kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan pada tahun-tahun berikutnya.
“Harapannya, untuk tahun berikutnya kegiatan memasak makanan tradisional seperti ini tetap dilanjutkan, agar adik-adik Pramuka terus mengenal dan mencintai budaya kuliner tradisional,” tambahnya.
Melalui Pasanggiri Olah-Olah putu mayang ini, Barata Sleman ke-40 menegaskan komitmennya dalam melestarikan budaya lokal melalui kegiatan kepramukaan. Giat ini menjadi sarana pembinaan karakter, kreativitas, dan kecintaan terhadap warisan budaya bangsa di kalangan generasi muda.



























