Indonesia, tanah yang suci
Tanah kita yang sakti
Di sanalah aku berdiri
Menjaga ibu sejati
Indonesia, tanah berseri
Tanah yang aku sayangi
Marilah kita berjanji
Indonesia abadi
Lagu Indonesia Raya dikumandangkan pertama kali pada tanggal 28 Oktober 1928, saat Sumpah Pemuda (jauh sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia) pada stanza III terdapat frasa: “Marilah kita berjanji Indonesia Abadi” sebagaimana kutipan di awal tulisan ini.
Dan janji itu sampai saat ini -saat 97 tahun Sumpah Pemuda dapat kita tepati. Menjaga Indonesia tetap abadi, tidaklah lepas dari keberadaan Pancasila sebagai dasar negara.
Sekelumit kisah berikut merupakan kisah yang menguatkan bahwa Pancasila adalah warisan luhur yang dapat mempersatukan NKRI dan sekaligus pembuktian peran Pancasila dalam menjaga NKRI.
Dalam pertemuan antara Presiden Soekarno dan Presiden Josip Broz Tito, terjadi pada tahun 1961 di Yugoslavia, Soekarno bertanya kepada Tito, “Apa yang akan anda wariskan kepada negaramu saat Anda nanti meninggal?”
Tito menjawab dengan bangga, “Aku telah membangun tentara yang gagah berani dan kuat, aku tidak khawatir dengan negaraku”
Tito lantas membalikkan pertanya- an kepada Soekarno, “Kalau Anda, apa yang akan Anda wariskan?”
Soekarno menjawab dengan tenang, “Aku tidak khawatir juga, karena aku telah mewariskan sebuah way of life, yakni Pancasila untuk seluruh Bangsa Indonesia.
Perbedaan jawaban antara keduanya terletak pada fokus yang berbeda. Tito menekankan kekuatan militer sebagai ja- minan bagi negaranya, sedangkan Soekarno menyoroti pentingnya ideologi dan nilai-nilai yang menyatukan bangsa, yaitu Pancasila.
Sejarah kemudian bahwa menunjukkan Yugoslavia terpecah menjadi beberapa negara (Serbia, Slovenia, Kroasia, Bosnia dan Herzegovina, Makedonia, Mintenegro, dan Kosovo), sedangkan Indonesia tetap utuh berkat persatuan yang dibangun di atas Pancasila.
Kutipan ini menunjukkan betapa Pancasila terbukti telah berhasil menjaga kesatuan NKRI hingga saat ini. Meski beberapa kali ada upaya untuk merongrong negeri ini, termasuk upaya mengganti dasar negara kita, namun Pancasila tetap terbukti mampu menjaga kesatuan NKRI.
Indonesia harus kita jaga supaya tetap abadi, dengan Dasar Negara Pancasila, way of life-nya bangsa Indonesia.
Apa yang selama ini sudah dilakukan oleh bangsa Indonesia untuk menjaga Indonesia yang salah salah satunya melalui pelestarian Pancasila, harus terus dijaga juga oleh Gen-Z, Gen Alpha, dan generasi-generasi berikutnya.
Pelestarian nilai Pancasila tidak sekadar menghafalkan sila-silanya, dan tidak sekadar pemaknaan atas sila-sila tersebut, tetapi harus sampai pada pangamalan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dalam kehidupan sehari-hari dalam bernegara, bermasyarakat, beragama, bertetangga, berkeluarga, dan sebagainya.
Dalam konsep Aristoteles, memaknai Pancasila itu tetap dilakukan melalui penguasaan atas 3 elemen, yakni: logos (logika, ilmu pengetahuan)-nya, pathos (emosi, perasaan, dan empati)-nya, serta ethos (kredibilitas, karakter, dan kepercayaan)-nya.
Untuk terus dapat menjaga Indonesia dalam kesatuan dan sekaligus menjaga Pancasila yang meru- pakan way of life kepada Gen Z, Gen Alpha, dan generasi-generasi berikutnya, ketiga elemen tersebut harus terus dikuasai.
Menjadi tugas generasi sekaranglah agar generasi-generasi tersebut dapat menjaga Pancasila dan menjaga NKRI tetap abadi, sebagaimana janji dalam Stanza III Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.
Menjadi ketugasan kitalah untuk mendidik generasi muda kita dengan logos, pathos, dan ethos. Kitalah yang harus menanamkan Pancasila beserta nilai-nilainya, memilih prasarana, sarana, metode, teknik, dan strategi yang tepat bagi anak muda yang notabene kini mereka sudah berada dalam era teknologi digital, agar generasi muda akan terus menjaga NKRI, Pancasila, sebagaimana janji saat Sumpah Pemuda 1928.
Wakil Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Daerah Istimewa Yogyakarta Bidang Organisasi, Manajemen, dan Hukum masa bakti 2020-2025
__
Artikel ini telah terbit di SKH Kedaulatan Rakyat, Rabu 29 Oktober 2025, halaman 7.



























