YOGYAKARTA — Dalam dinamika organisasi Gerakan Pramuka, jabatan di tingkat Kwartir (baik Ranting, Cabang, Daerah, maupun Nasional) adalah amanah eksekutif, bukan sekadar gelar kehormatan.
Menakar keaktifan mereka tidak bisa hanya menggunakan kacamata “responsivitas pesan”, melainkan harus berbasis pada output dan dampak. Tentu saja ini juga dibuktikan dengan karya nyata sesuai dengan bidang yang mereka ampu.
Masih banyak yang mungkin terjebak dengan sebuah penghormatan virtual dan lupa akan sebuah peraturan yang mungkin telah disepakati sebelumnya, tertulis maupun tidak.
Dari “Ucapan Selamat” ke “Solusi Masalah”
Keaktifan sejati terlihat saat seorang pengurus kwartir mampu mengidentifikasi masalah di lapangan dan menawarkan solusi konkret, meskipun kadang itu masih sebatas ide, namun akan bersambut dengan gagasan-gagasan penunjang dari lainnya dan memacu diskusi.
Indikatornya biasanya apakah mereka hanya mengucapkan “Selamat Hari Pramuka”, atau mereka turun tangan membantu kwartir dalam mengelola administrasi.
Dalam hal ini, kita bisa melihat bahwa esensi yang dimaksudkan adalah bahwa pengurus yang aktif adalah mereka yang menjadi jembatan solusi, bukan sekadar “pemandu sorak” di grup percakapan.
Kualitas Partisipasi dalam Rapat
Kehadiran fisik dalam rapat adalah standar minimum, namun kualitas opini yang diberikan adalah takaran sebenarnya. Usulan bisa disampaikan dalam bentuk tertulis, baik di dalam sebuah group, atau melalui jaringan pribadi.
Sebagai indikator misalnya, apakah pengurus tersebut memberikan ide strategis untuk pengembangan peserta didik, atau hanya Datang, Duduk, dan Setuju? Esensinya adalah keaktifan intelektual lebih dibutuhkan daripada kehadiran administratif.
Eksekusi Program Kerja ~ Key Index Performance
Kwartir bukan organisasi hobi tanpa target. Setiap bidang di dalamnya memiliki rencana kerja yang terukur, disiapkan berdasarkan Rencana Strategis yang dibahas tidak hanya sekadar menuliskan kata.
Kita bisa melihat indikatornya seperti Berapa persentase program kerja di bidangnya yang terlaksana dengan sukses? Apakah ada inovasi baru, atau hanya mengulang kegiatan rutin tahunan yang “copy-paste”?
Dari sini, esensi yang bisa kita lihat apakah pengurus yang aktif memiliki sense of achievement terhadap program yang mereka nakhodai atau yang telah disusun bersama.
Kehadiran di Lapangan
Pramuka adalah kegiatan di alam terbuka. Seorang pengurus Kwartir yang aktif harus merasakan debu lapangan, bukan hanya duduk di balik meja atau memantau dari layar ponsel, kecuali memang bidang-bidang yang hubungannya erat dengan hal itu.
Sebagai indikator, kita bisa melihat seberapa sering pengurus kwartir ini setidaknya melakukan supervisi langsung ke kegiatan-kegiatan di tingkat bawah. Dari sini esensinya, kehadiran di lapangan memberikan legitimasi kepemimpinan yang jauh lebih kuat daripada ribuan pesan teks.
Jika sebuah Kwartir diisi oleh orang-orang yang hanya aktif mengirim ucapan selamat, maka organisasi tersebut akan mengalami anemia kepemimpinan.
Organisasi akan terlihat hidup di permukaan saja, namun keropos dan tidak dirasakan manfaatnya oleh anggota didik di akar rumput, jauh dari sebuah visi yang penuh dengan harapan besar.
Sebuah ungkapan umum, “Kwartir yang hebat tidak dibangun oleh admin grup yang rajin menyapa, tapi oleh para fungsionaris yang rajin bekerja, berinovasi, dan mengabdi.”
CST



























