GUNUNGKIDUL — Kwartir Ranting (Kwarran) Gerakan Pramuka Patuk, Gunungkidul menggelar Apel Peringatan Hari Pramuka ke-64 di halaman SMP Negeri 4 Patuk pada Kamis, 14 Agustus 2025.
Apel ini diikuti oleh 102 undangan yang terdiri dari unsur Ketua Majelis Pembimbing Gugus Depan, Pembina Pramuka, Koramil, dan Polsek, serta 252 peserta pramuka penggalang, dengan Ketua Kwarran Patuk Kak Triyanta bertindak sebagai Pembina Apel.
Dalam sambutannya, Kak Triyanta menyampaikan bahwa Kwartir Nasional Gerakan Pramuka mengangkat tema Kolaborasi untuk Membangun Ketahanan Bangsa.
“Tema ini sangat relevan dengan kondisi bangsa kita saat ini, di tengah berbagai tantangan sosial, lingkungan, dan digital yang kita hadapi bersama,” ujarnya.
Kak Triyanta menegaskan bahwa Gerakan Pramuka merupakan wadah pembentukan karakter yang unggul, disiplin, peduli, dan siap mengabdi.
“Tugas kita tidak hanya belajar tali-temali, baris-berbaris, atau menyanyi di perkemahan. Lebih dari itu, kita punya peran besar sebagai generasi muda yang ikut menjaga persatuan, melestarikan alam, dan melindungi masyarakat dari berbagai ancaman zaman,” tegasnya.
Beberapa tahun terakhir, kita sering mendengar kasus perundungan atau bullying di sekolah, ujaran kebencian, dan sikap intoleransi. Perbedaan yang seharusnya menjadi kekayaan justru dijadikan alasan untuk saling menjauh, bahkan memusuhi.
“Ini adalah ancaman serius bagi ketahanan bangsa,” ujar Kak Triyanta.
Kak Triyanta menyebutkan b ahwa Pramuka harus menjadi garda terdepan untuk menghapus perilaku ini. Sifat Satyaku Kudarmakan, Darmaku Kubaktikan harus diwujudkan dalam sikap saling menghormati, melindungi yang lemah, dan berani membela kebenaran.
“Mari kita mulai dari pangkalan gugus depan kita sendiri. Jadikan sekolah kita sebagai zona ramah anak, bebas dari kekerasan, perundungan, dan diskriminasi. Ajak teman-teman yang berbeda suku, agama, atau latar belakang untuk bekerja sama, saling membantu, dan saling menyemangati,” imbaunya.
Menurutnya, inilah bentuk kolaborasi sederhana yang bisa kita mulai dari lingkungan terdekat, untuk membangun ketahanan bangsa dari ancaman perpecahan sosial.
Akan tetapi, aksi kita tidak berhenti di situ. Perlu mengajak teman, keluarga, dan masyarakat sekitar untuk ikut peduli. Inilah wujud kolaborasi lintas kelompok—antara Pramuka, sekolah, pemerintah, dan masyarakat—untuk menciptakan lingkungan yang lestari.

Tantangan besar lainnya di era ini adalah maraknya disinformasi atau berita bohong yang menyebar sangat cepat melalui media sosial. Berita palsu dapat memicu kepanikan, merusak reputasi seseorang, memecah belah masyarakat, bahkan mengancam keamanan negara.
Sebagai generasi digital, Pramuka harus menjadi duta literasi informasi. Sebelum membagikan berita atau informasi, biasakan untuk memeriksa sumbernya, memastikan kebenarannya, dan mempertimbangkan apakah informasi tersebut bermanfaat atau justru merugikan.
“Kolaborasi yang kita lakukan di dunia digital berarti bekerja sama dengan pihak sekolah, keluarga, komunitas, bahkan instansi pemerintah untuk mengedukasi masyarakat agar bijak bermedia sosial,” sambungnya.
Lebih lanjut, Kak Triyanta mengingatkan bahwa di era digital ini, setiap unggahan adalah pelajaran, setiap komentar adalah cermin diri.
“Jadilah guru yang memberi manfaat, bukan penyebar keburukan,” pesannya.
Untuk menyelesaikan dua tantangan besar ketahanan sosial dan ketahanan digital, kita belajar bahwa tidak ada satu pun masalah bangsa ini yang bisa diselesaikan sendirian.
“Kita memerlukan kolaborasi: saling menguatkan, saling melengkapi, dan saling mengingatkan,” sebutnya.
Anggota pramuka punya bekal karakter, keterampilan, dan semangat pengabdian yang menjadi modal besar untuk ikut membangun bangsa. Kak Triyanta mengajak untuk mulai dari langkah-langkah kecil di lingkungan kita, lalu meluas ke masyarakat, hingga akhirnya memberi dampak positif bagi Indonesia.



























