KULON PROGO — Panitia Perkemahan Wirakarya Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) 2025 melakukan audiensi dengan tim Jejaring Pengelola Sampah Mandiri (JPSM) Kulon Progo pada Senin, 9 Juni 2025.
Audiensi bertempat di Kampung Pramuka Sokorojo yang direncanakan menjadi lokasi Sub Camp Perkemahan Wirakarya DIY 2025 sekaligus menjadi langkah awal kolaborasi dalam pengelolaan sampah.
Hal ini menjadi salah satu bagian dari komitmen Perkemahan Wirakarya DIY 2025 untuk mewujudkan kampung pramuka percontohan di bidang lingkungan hidup.
Hadir dalam audiensi tersebut, Ketua Dewan Kerja Daerah (DKD) DIY Kak Anashatierra Maritzaiva, Wakil Ketua DKD Kak Ahmad Mahardi Ismail, Ketua Sangga Kerja Perkemahan Wirakarya DIY 2025 Kak Nanang, serta Kak Intan, dan Kak Kemal.
Turut mendampingi juga Kak Bambang Sasongko (Kokok) selaku Ketua Pusat Pengabdian Masyarakat dan Pramuka Peduli serta Kak Dijah Inprijati selaku Andalan Daerah Bidang Pengabdian Masyarakat, Penanggulangan Bencana, dan Lingkungan Hidup.
Dari pihak JPSM hadir Kak Tanjung, Kak Dwi Mulyono, dan Kak Isna. Nampak pula perangkat desa setempat turut hadir yaitu Kak Kamidi selaku Dukuh Sokorojo dan Kak Edy selaku Bhabinkamtibmas Kalurahan Wijimulyo.
Dalam kesempatan ini, panitia menyampaikan rencana program Greennovation House, yang menjadi salah satu bagian kegiatan pengabdian masyarakat. Salah satu fokus program tersebut adalah pengolahan sampah secara terpadu.
Sampah organik akan dimanfaatkan untuk budidaya maggot, produksi kompos, dan eco-enzyme. Sementara itu, tantangan terbesar masih berada pada pengelolaan sampah anorganik agar lebih efektif dan efisien.
Kolaborasi akan dimulai bahkan sebelum kegiatan perkemahan berlangsung. Tahap pra-Wirakarya akan menjadi momen awal dimulainya pengelolaan sampah organik dan anorganik di lingkungan Kampung Pramuka.
Inisiatif ini sekaligus menjadi bentuk edukasi langsung kepada masyarakat tentang pemilahan dan pemanfaatan sampah sejak dini, serta membangun sistem pengelolaan yang berkelanjutan.

Untuk menjawab tantangan tersebut, panitia menggandeng JPSM karena pengalaman dan kiprah mereka dalam membangun circular economy berbasis komunitas melalui pendekatan eco-friendly household.
JPSM pun menyatakan dukungannya terhadap rencana ini, termasuk gagasan pengembangan bank sampah di lingkungan masyarakat sebagai wujud pemberdayaan berkelanjutan.
“Kami melihat potensi besar untuk menjadikan Kampung Pramuka Wijimulyo sebagai model nyata dalam community development berbasis lingkungan, tidak hanya dalam konteks perkemahan, tapi juga untuk keberlanjutan desa,” ujar perwakilan JPSM.
Lebih dari sekadar mendukung pelaksanaan Perkemahan Wirakarya, kolaborasi ini diharapkan membuka jalan untuk pendampingan pengolahan sampah yang berkelanjutan di wilayah desa setempat.
Inisiatif ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran lingkungan dan menciptakan sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang mandiri dan berdampak jangka panjang.



























