YOGYAKARTA — 4 Maret 2026, Upaya memperkuat jejaring gotong royong dalam menjaga harmoni sosial dan mendorong inovasi kebangsaan terus digencarkan melalui kolaborasi lintas sektor. Salah satunya diwujudkan dalam kegiatan Diskusi Aksi Kolaboratif Ikon Prestasi Pancasila yang diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Yogyakarta.
Kegiatan ini menghadirkan berbagai tokoh nasional dan daerah yang dinilai konsisten mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kiprah nyata di masyarakat. Sekretaris Kwartir Daerah (Kwarda) Daerah Istimewa Yogyakarta, Kak drh. Sri Budoyo, hadir mewakili Ketua Kwarda DIY sebagai narasumber dalam forum tersebut.
Dalam paparannya yang berjudul “Transformasi Nilai Pancasila melalui Kepanduan dalam Memperkuat Karakter Gotong Royong Pramuka yang Adaptif dan Berintegritas”, Kak Budoyo menekankan bahwa Gerakan Pramuka memiliki posisi strategis dalam membentuk karakter generasi muda Indonesia. Menurutnya, nilai gotong royong bukan sekadar warisan budaya, melainkan fondasi utama dalam membangun ketahanan sosial dan daya saing bangsa.
“Pramuka bukan hanya kegiatan ekstrakurikuler, tetapi proses pendidikan karakter yang sistematis. Di dalamnya tertanam nilai kebersamaan, kedisiplinan, integritas, dan kepemimpinan yang selaras dengan Pancasila,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa tantangan kebangsaan saat ini semakin kompleks, mulai dari polarisasi sosial, disrupsi digital, hingga perubahan pola interaksi generasi muda. Oleh karena itu, pendidikan kepanduan perlu adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai dasar. Transformasi tersebut, lanjutnya, dapat dilakukan melalui penguatan literasi digital, kepedulian sosial berbasis komunitas, serta program inovatif yang mendorong kolaborasi lintas generasi.

Kegiatan ini juga dihadiri Direktur Jaring dan Pembudayaan BPIP, Toto Purbiyanto, beserta jajaran. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa program Ikon Prestasi Pancasila dirancang sebagai pendekatan partisipatif dalam pembinaan ideologi negara.
Menurut Toto, pembumian Pancasila tidak dapat dilakukan secara top-down semata. Dibutuhkan figur-figur inspiratif yang telah membuktikan konsistensi nilai Pancasila dalam tindakan nyata. “Para Ikon Prestasi Pancasila ini adalah contoh hidup bahwa Pancasila bukan sekadar wacana, tetapi praksis yang bisa diwujudkan dalam berbagai bidang, mulai dari seni, pendidikan, sosial, hingga pengabdian masyarakat,” katanya.
Turut menjadi narasumber dalam diskusi tersebut adalah Didik Hadiprayitno, S.S.T. (Didi Nini Thowok), yang dikenal luas sebagai seniman tradisi sekaligus Ikon Prestasi Pancasila tahun 2019, serta Susilo Adinegoro, penerima penghargaan serupa pada tahun 2020.
Didik Hadiprayitno berbagi pengalaman mengenai bagaimana seni dan budaya dapat menjadi medium efektif untuk merawat kebinekaan dan memperkuat persatuan. Ia menegaskan bahwa kreativitas seni tradisi mengandung nilai toleransi dan penghormatan terhadap perbedaan, yang merupakan manifestasi sila-sila Pancasila.
Sementara itu, Narasumber lainnya, Susilo Adinegoro menyoroti pentingnya konsistensi dalam pengabdian sosial sebagai bentuk nyata implementasi nilai kemanusiaan dan keadilan sosial. Ia mengajak generasi muda untuk tidak ragu mengambil peran di tengah masyarakat, sekecil apa pun kontribusinya.
Diskusi berlangsung dinamis, peserta berasal dari berbagai latar belakang, termasuk unsur pendidikan, organisasi kepemudaan, serta komunitas sosial. Forum ini juga menjadi ruang membangun jejaring kolaborasi yang konkret.
Melalui kegiatan ini, BPIP berharap tercipta sinergi berkelanjutan antara lembaga pemerintah, organisasi masyarakat, dan tokoh inspiratif dalam memperkuat harmoni sosial. Pendekatan aksi kolaboratif dinilai penting agar nilai gotong royong tidak berhenti sebagai slogan, melainkan menjadi praktik kolektif yang terstruktur dan berdampak luas.
Bagi Kwarda DIY, keterlibatan dalam forum ini menjadi bagian dari peran strategis Pramuka DIY dalam pembinaan ideologi Pancasila di tingkat akar rumput. Gerakan Pramuka dipandang sebagai salah satu wadah paling efektif dalam menanamkan nilai kebangsaan sejak dini, karena proses pendidikannya berbasis pengalaman langsung dan kerja tim.
Di tengah perubahan sosial yang cepat, kolaborasi lintas sektor seperti ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan ideologi bangsa. Dengan mengedepankan keteladanan para Ikon Prestasi Pancasila dan dukungan organisasi kepemudaan seperti Pramuka, semangat gotong royong diyakini tetap relevan sebagai fondasi utama menjaga persatuan dan mendorong inovasi kebangsaan Indonesia.(Kak Iped/LA)



























