YOGYAKARTA — Penulis sangat beruntung sekaligus bangga, karena masih merasakan langsung dibina jiwa dan raga hampir selama sebulan pada bulan Juli 1967 oleh Kak Husein Mutahar, tokoh pramuka yang juga merupakan Andalan Nasional Urusan Latihan (Anulat) Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.
Momen itu terjadi ketika penulis bersama tujuh Pramuka Penggalang lainnya berangkat sebagai Kontingen Indonesia mengikuti Jambore Dunia XII di Idaho, Amerika Serikat (The XII World Jamboree, Idaho, USA).
Kami satu regu Rajawali yang diketuai Bondan Winarno, diasramakan di kompleks PT Molino, dipinggir jalan raya Bogor, mendapatkan pelatihan intensif dari Kak Mutahar yang didampingi para Pembina Pramuka tingkat Nasional yaitu Kak Idik Sulaeman, Kak Susanto Martodiharjo dan Kak Benny Supangat Sumarto.
Hampir setiap hari Kak Mutahar, kadang-kadang didampingi Kak Sudibyo Gareng, Sekjen Kwartir Nasional Gerakan Pramuka hadir menyambangi kami seregu berlatih menyiapkan diri mengikuti Jambore Dunia, yang perlu dicatat sebagai momentum bersejarah karena baru pertama kalinya Gerakan Pramuka mengikuti Kegiatan Kepanduan tingkat dunia.
Perlu diketahui bahwa Gerakan Pramuka pernah menyatakan keluar sebagai anggota Organisasi Kepanduan Dunia (World Organization of the Scout Movement), karena pertimbangan politik pada jaman kepemimpinan Presiden Sukarno.
Disinilah peran Kak Mutahar bersama para Pembina Pramuka tingkat Nasional memberi bekal semangat bagi kami seregu Pramuka Penggalang Garuda untuk siap menjadi Duta Bangsa membawa nama baik bangsa Indonesia di tengah ribuan peserta Jambore Dunia yang berasal dari seluruh pelosok dunia.
Sejarah Perjuangan Gerakan Pramuka
Sejarah perjuangan dari kelahirannya sampai dengan tumbuh-kembangnya Gerakan Pramuka tidaklah dapat dipisahkan dengan sejarah perjuangan Bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaannya.
Sejak zaman kolonial Belanda, gerakan Kepanduan di Indonesia dikenal dengan Padvinder atau Padvinderij, namun pada Kongres Sarekat Islam Afdeling Padvinderij (SIAP) pada tanggal 9 April 1928, istilah dalam Bahasa Belanda tersebut diusulkan oleh seorang Tokoh Pahlawan Nasional yakni K.H. Agus Salim, yang juga aktif sebagai tokoh SIAP, mengganti menjadi Pandu atau Kepanduan.
Gayung bersambut juga oleh W.R. Supratman sebagai pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya, yang dikumandangkan pertama kali di forum Kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928 pada Stanza I menyebutkan syairnya sebagai berikut: “Disanalah aku berdiri jadi pandu ibuku”.
Gerakan Kepanduan di Indonesia penuh dinamika, mengingat dalam perkembangannya Gerakan Kepanduan ini telah berulangkali disatukan dan terpecah. Setelah diproklamasikannya kemerdekaan di tahun 1945, kelompok-kelompok pandu yang sempat terbentuk selama masa Hindia Belanda dan sempat berhenti aktivitasnya di masa pendudukan Jepang bersepakat untuk membentuk satu wadah organisasi kepanduan yang terafiliasi ke dalam apa yang disebut Pandu Rakyat Indonesia. (Faisal Hilmy Maulida, ed, p.32)
Namun beriringan dengan gejolak perang kemerdekaan sekitar tahun 1946-1949, maka gerakan kepanduan yang sudah disatukan dalam Pandu Rakyat Indonesia mulai terpecah kembali menjadi hampir 100 organisasi kepanduan.
Usaha untuk menyatukan kembali terus diperjuangkan yang berhasil terhimpun dalam tiga federasi, yaitu Ikatan Pandu Indonesia (Ipindo), Persatuan Organisasi Pandu Puteri Indonesia (Poppindo) dan Persatuan Kepanduan Puteri Indonesia (PKPI), yang akhirnya dibentuklah Persatuan Kepanduan Indonesia (Perkindo) yang merupakan gabungan dari tiga federasi tersebut. (Faisal Hilmy Maulida, ed, p. 33)
Perkembangan sejarah selanjutnya pada tanggal 9 Maret 1961, Presiden Sukarno memerintahkan seluruh organisasi Kepanduan di Indonesia melebur menjadi satu ke dalam Gerakan Pramuka yang kemudian di kenal sebagai Hari Tunas Pramuka.
Istilah Pramuka sendiri sebagai kata ganti Pandu hingga sekarang masih menjadi perdebatan tentang asal-usulnya. Namun dari informasi yang dapat dipercaya dari Kak Mutahar dan Kak Sudibyo Gareng kepada kami satu Regu Rajawali, menyatakan bahwa nama Pramuka ada kaitan dengan prajurit Kraton Ngoyogyahadiningrat yang berarti prajurit yang berani berada di garis paling depan (dalam bahasa Jawa dieja sebagai Paramuka atau Pramudya).
Sementara itu kak Mutahar pernah menyampaikan kepada Kak Gunawan Wibisono, Andalan Daerah Kwarda XII Daerah Istimewa Yogyakarta, bahwa nama Pramuka berasal dari “Para Muka” yang artinya adalah mereka yang berada di muka.(Kwarda XII DIY, 2017, p. 92)
Dengan demikian pilihan nama Pramuka yang menggantikan kata Pandu dapat diyakini berasal dari gagasan atau buah pemikiran kak Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Bapak Pramuka Indonesia. Dan patut diduga yang mempopulerkan Pramuka sebagai singkatan dari “Praja Muda Karana” adalah Kak Mutahar.
Sosok yang Serba Bisa
Kak Mutahar atau dengan nama lengkapnya Husein Mutahar atau sering disingkat Hs. Mutahar lahir di kota Semarang pada tanggal 5 Agustus 1916 dan wafat pada tanggal 9 Juni 2004.
Sejak masa kecil dan remaja, ayahnya Salim Mutahar menyekolahkan Husein Mutahar mulai pendidikan tingkat dasar Europeesche Lagere School (ELS), dilanjutkan ke tingkat lebih tinggi Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) dan juga Algemene Middelbare School (AMS).
Disamping berpendidikan sekolah formal, Husein Mutahar belajar mengaji berguru pada Encik Nur dan Kyai Saleh Darat. Mutahar kecil juga ikut serta dalam kegiatan pendidikan di jalur non formal seperti kepanduan. (Faisal Hilmy Maulida, ed, p. 5)
Ketika usia 18 tahun, Husein Mutahar berinisiatif mendirikan pandu sendiri yang namanya Pandu Arjuna. Pada masa kemerdekaan, Husein Mutahar menempuh pendidikan di Jurusan Hukum, Universitas Gadjah Mada dan menguasai 8 bahasa selain Bahasa Indonesia yakni Bahasa Jawa, Melayu, Arab, Inggris, Belanda, Jerman, Perancis dan Spanyol.
Selain itu sejak muda Husein Mutahar juga mengembangkan kecintaannya terhadap musik dan lagu, terutama dengan mencipta lagu Kebangsaan dan Kepanduan, sehingga menjadi salah satu tokoh Maestro Komponis Indonesia.
Tak pelak lagi dalam sejarah perkembangan Gerakan Kepanduan sampai dengan Gerakan Pramuka, Kak Husein Mutahar selalu aktif berkiprah dan berjuang sekaligus sebagai saksi dan bahkan pengukir sejarah kepanduan maupun kepramukaan.
Sebelum masuk jajaran Andalan Nasional di Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Kak Mutahar aktif sebagai anggota Kwartir Besar Organisasi Persatuan dan Kesatuan Kepanduan Nasional Indonesia “Pandu Rakyat Indonesia”.
Pada masa bakti yang pertama Kwartir Nasional Gerakan Pramuka ketika disahkan pada tanggal 20 Mei 1961 yang diketuai oleh Kak Sri Sultan Hamengku Buwono IX, maka Kak Mutahar sudah menjadi salah satu Andalan Nasional yang berjumlah 17 orang.
Disinilah letak dan peran Kak Mutahar mulai terbangun sebagai Andalan Nasional Urusan Latihan untuk menggodok materi pendidikan kepramukaan. Salah satu tokoh terpenting dalam menyiapkan kurikulum pendidikan kepramukaan pada umumnya di kemudian hari (Faisal Hilmy Maulida, ed, p. 36)
Apabila merujuk pada konsepsi dan ajaran kepanduan yang berasal dari Bapak Pandu Dunia, Lord Baden Powell, walaupun mempunyai tujuan yang sama yakni membangun jiwa dan karakter anak muda agar menjadi warga negara yang kuat dan berbakti pada nusa dan bangsanya, namun dari segi filosofi maupun tehnik dan metodik pendidikan kepanduan/kepramukaan sangatlah jauh berbeda.
Sebagai contohnya oleh karena kepanduan di Inggris berlatih sebagai penjelajah rimba berarti harus bisa hidup harmonis dengan alam dengan segala kehidupannya, maka tiap-tiap regu dalam pasukan diberi nama binatang.
Sebaiknyalah hanya memilih binatang-binatang dan burung-burung yang terdapat di wilayahnya. Jadi pasukan London ke 33 mungkin mempunyai 5 regu yang berturut-turut disebut: Kuda, Srigala, Burung Hantu, Kampret dan Kucing.(Baden Powell, p.36)
Berbeda dengan pendidikan Kepramukaan, seperti dituturkan oleh Kak Mutahar kepada kami, bahwa metode Kepramukaan yang diterapkan di Indonesia adalah Sistem Among dan Kiasan Dasar.
Yang dimaksud Sistem Among adalah proses pendidikan kepramukaan yang membentuk peserta didik agar berjiwa merdeka, disiplin dan mandiri dalam hubungan timbal balik antar manusia dengan menerapkan prinsip kepemimpinan di depan menjadi teladan, di tengah membangun kemauan, dan di belakang mendorong dan memberikan motivasi kemandirian.
Sedangkan yang dimaksudkan dengan Kiasan Dasar adalah penyelenggaraan pendidikan kepramukaan dikemas dengan bersumber dari sejarah perjuangan dan budaya bangsa.
Kak Mutahar dengan gaya tutur katanya yang menggelegar itu menjelaskan bahwa tingkatan dalam pendidikan kepramukaan sudah mencerminkan tentang sejarah perjuangan bangsa.
Misalnya Siaga itu artinya peserta didik harus siap untuk meraih kemerdekaan, Penggalang artinya harus mampu menggalang kekuatan secara beregu atau berkelompok untuk mencapai kemerdekaan, dan pada tingkat Penegak/Pandega sudah waktunya siap dan mampu mandiri untuk mengisi kemerdekaan yang kita raih bersama-sama.
Jadi sejatinya dalam pendidikan kepramukaan sudah sejak dini ditanamkan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanai air dan bangsa Indonesia.
Demikian pula penamaan satuan-satuan dalam Gerakan Pramuka juga harus mencerminkan Kiasan Dasar tersebut, misalnya Barung Merah, Regu Melati, Regu Rajawali, Regu Bima, Pasukan Diponegoro, Ambalan Chik Di Tiro, Ambalan Kartini, Racana Gadjah Mada, Racana Srikandi.
Penulis menyebutkan Kak Mutahar sebagai sosok yang serba bisa khususnya di bidang pendidikan kepramukaan bisa dikatakan “Master Mind” nya seluruh konstruksi dari bangunan Gerakan Pramuka ini hingga sekarang.
Hal ini dibuktikan dengan berbagai karya petunjuk penyelenggaraan Pendidikan Kepramukaan pada masa Kak Mutahar menduduki posisi sebagai Andalan Nasional Urusan Latihan maupun sebagai Direktur Jendral Urusan Pemuda dan Pramuka Depatemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia serta karya cipta lagunya tentang lagu Wajib misalnya lagu Syukur dan lagu-lagu Kepramukan, termasuk Hymne Pramuka merupakan karya unggulan kak Mutahar.
Pada masa akhir hayat Kak Mutahar, penulis bersama istri, Dian Siswantari yang juga anak asuh Kak Mutahar di Dewan Kerja Nasional maupun Caraka Muda Indonesia, sempat kami berdua bersilaturahmi di Hotel Sahid Yogyakarta sektar tahun 1983.
Kami diundang makan malam sambil memberikan petuah dengan canda yang khas dan khusus untuk istri penulis yang sedang mengandung anak pertama, Kak Mutahar berkata:”Dian, kamu sedang hamil, jaga baik-baik anakmu dan saya pesankan Steak ya?” Woow hati kami berdua berbinar-binar dan merasa bangga mempunyai Kakak dan Guru Kehidupan yang luar biasa.
Akhirnya penulis ingin mengutip kata mutiara dari Baden Powell dalam bukunya “Rovering to Success” yang cuplikannya sebagai berikut: Ingatlah, kalian adalah kalian. Kalian menjalani kehidupan kalian sendiri. Jika ingin sukses, ingin berbahagia, kalianlah yang harus mengusahakannya sendiri. Tidak ada orang lain yang bisa mempersembahkannya untuk kalian. Ketika saya masih kecil, ada sebuah lagu populer yang berjudul “Paddle Your own Canoe” (Baden Powell, p.24)
Hal ini rupanya menginspirasi Kak Mutahar mencipta lagu dengan judul “Awaslah Karang Berbahaya” yang sering dinyanyikan bareng-bareng pada pertemuan atau api unggun kerabat Pramuka Penegak/Pandega.
Sepenggal syairnya bisa didendangkan seperti ini: “Kayuhlah kolikmu sendiri. Awas karang-karang di jalan. Ada yang yang tidak kelihatan. Jangan sampai kau terperdaya. Oleh karang yang berbahaya.’
Sekian, selamat Hari Pramuka ke-64 dan semoga kita tetap bisa mengobarkan semangat “Satyaku kudarmakan. Darmaku kubaktikan”.
Yogyakarta, 14 Agustus 2025
Daftar Pustaka
- Faisal Hilmy Maulida, ed, “Inventarisasi Sumber Arsip, HUSEIN MUTAHAR, Pengabdian dan Karyanya”, (Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 2009)
- Kwarda XII DIY, “Meretas Jejak, Sri Sultan Hamengku Buwono IX Bapak Pramuka Indonesia”, (Kwarda XII DIY, Yogyakarta, 2017)
- Baden Powell, “Memandu untuk Putra”, (Penerbitan Persaudaraan Sedunia, Jakarta 1982)
- Baden Powell, “Rovering to Success, Filosofi Hidup Menjadi Keren dan Bahagia”, (Rene Book, Jakarta, Agustus 2019)



























