YOGYAKARTA — Kak Ahmad Mahardi Ismail (Ade) Wakil Ketua Dewan Kerja Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega tingkat Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (DKD DIY) menjadi salah satu narasumber dalam sarasehan Hari Bapak Pramuka Indonesia ke-113 tahun 2025.
Bertempat di Aula Kaca, Kompleks Bumi Perkemahan Taman Tunas Wiguna Babarsari, Yogyakarta, Kak Ade menjadi narasumber sarasehan yang mengusung tema Mengintegrasikan Nilai-Nilai Kepramukaan dan Semangat Sri Sultan Hamengku Buwono IX di Era Digital Menuju Indonesia Emas.
Dua narasumber lainnya yang dihadirkan yaitu Kak GKR Hayu, Wakil Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka DIY bidang Kehumasan, Teknologi Informatika, dan kerjasama, serta Kak Tri Saktiyana, Asisten Sekretaris Daerah DIY Bidang Perekonomian dan Pembangunan.
Kak Ade menyebutkan bahwa Perkemahan Wirakarya yang merupakan gagasan dari Kak Sultan HB IX merupakan bentuk aksi nyata dan kepedulian Pramuka di masyarakat. Menurutnya, saat ini mungkin banyak dinamika yang perlu disikapi oleh pramuka.
Berkaitan dengan Perkemahan Wirakarya yang akan diselenggarakan pada 4 hingga 7 Juli 2025 mendatang, Kak Ade menyebutkan bahwa kegiatan ini nantinya tidak melulu kegiatan fisik dalam bakti masyarakat.
“Pergeseran nilai Community Service menjadi Community Development ini menjadi satu poin penting dari Perkemahan Wirakarya,” ujar Kak Ade.
Ia menambahkan bahwa tidak ada perubahan inisiasi dari Kak Sultan HB IX, namun pelaksanaan Perkemahan Wirakarya nantinya akan disesuaikan dengan perkembangan zaman.
“Perkemahan Wirakarya tahun ini, kami berencana mengambil di Kulon Progo, di salah satu Kampung Pramuka yaitu di Sokorojo, yang mereka punya banyak potensi yang sifatnya masih konvensional. Harapannya pramuka bisa hadir di masyarakat mengupayakan digitalisasi di sana,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Kak Ade juga menjelaskan bahwa salah satu tantangan yang ada di Kampung Pramuka Sokorojo, potensi saat ini belum dikembangkan secara optimal.
Menurut Kak Ade, Perkemahan Wirakarya yang akan dilaksanakan di Sokorojo bisa mendukung digitalisasi tidak hanya sekedar pelatihan-pelatihan, namun bisa membantu marketing di wilayah tersebut.
“Bagaimana pramuka hadir di Sokorojo, kita dengan era milenial yang cakap teknologi bisa meningkatkan marketing mereka,” terang Kak Ade.
Pihaknya juga berharap, Perkemahan Wirakarya yang akan dilaksanakan di Kampung Pramuka Sokorojo bisa mengubah budaya yang kurang baik utamanya terkait sampah, sehingga menjadi lebih tertata dan mendapatkan perhatian khusus.
Dalam pelaksanaannya nanti, para pemuda di Kampung Pramuka Sokorojo juga akan diajak ikut serta dalam kegiatan khususnya pelatihan-pelatihan untuk mendukung pemberdayaan dan bisa berkelanjutan.
Kak Ade menegaskan bahwa poin penting Perkemahan Wirakarya yang diselenggarakan bukan untuk menyulap Kampung Pramuka bisa langsung maju. Namun perlu proses, komitmen bersama, antara pramuka dengan masyarakat, untuk pengembangan wilayah yang ada. (cst)



























