YOGYAKARTA – Setelah berlangsung selama 3 hari, kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Adaptasi Perubahan Iklim yang diselenggarakan oleh Kwarda DIY bekerja sama dengan Yayasan Plan Indonesia resmi ditutup pada hari Jumat 10 Mei 2025.
Kegiatan ini bertujuan untuk membekali para pembina Pramuka dengan pemahaman serta keterampilan dalam menyosialisasikan dan menerapkan prinsip-prinsip adaptasi perubahan iklim di gugusdepan masing-masing.
Dalam laporan penutupnya, Kak Dijah Imprijati menyampaikan bahwa Bimtek ini telah menggunakan berbagai metode partisipatif untuk memastikan peserta memahami dan dapat menerapkan modul Adaptasi Perubahan Iklim secara efektif.
“Selama bimtek ini, kita tidak hanya belajar dari narasumber, tetapi juga dari praktik langsung, diskusi, dan pengalaman antar peserta. Harapan kami, setelah kembali ke gugusdepan, para pembina dapat menjadi agen perubahan, mengajak adik-adik Pramuka untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan siap menghadapi tantangan perubahan iklim,” ujar Kak Dijah.
Pihaknya juga menyampaikan apresiasi atas antusiasme peserta serta dukungan dari para fasilitator, narasumber, dan mitra yang telah membuat kegiatan ini berjalan lancar.
Pada kesempatan ini disampaikan pula kesan salah satu peserta Kak Setyo Prapto, menyampaikan rasa syukur karena dapat mengikuti bimtek dalam keadaan sehat dan lancar. Ia juga mengungkapkan terima kasih yang mendalam kepada narasumber dan fasilitator.
“Kami sangat berterima kasih atas ilmu dan pengalaman yang telah dibagikan. Kami kini semakin sadar bahwa perubahan iklim bukanlah isu yang jauh dari kehidupan sehari-hari.” ujarnya
Humanitari Manager Yayasan Plan International Indonesia, Kak Enos, menyampaikan bahwa keterlibatan Pramuka sangat penting dalam upaya adaptasi perubahan iklim di Indonesia.
“Adaptasi terhadap perubahan iklim harus menjadi gerakan yang terus hidup dan berkembang, melakukan aksi berkelanjutan yang dilakukan bersama-sama. Di sinilah peran penting Pramuka sebagai bagian dari masyarakat, yang memiliki jaringan luas dan semangat pengabdian tinggi,” ujarnya.
Kak Enos juga mengajak semua pihak untuk terus mengevaluasi dan menyempurnakan modul yang digunakan dalam bimtek agar lebih mudah dipahami dan diterapkan.
“Semoga modul ini bisa terus diperbarui berdasarkan masukan dari para pembina, agar ke depannya makin efektif dalam mendorong aksi nyata,” tambahnya.
Ketua Kwarda DIY, Kak Mangkubumi dalam arahannya mengingatkan bahwa di DIY sering membaca dan mendengar filosofi ‘Hamemayu Hayuning Bawono’, yang artinya merawat dan memperindah dunia.
“Tapi, kenyataannya, kita masih menghadapi banyak persoalan lingkungan: sampah yang menumpuk, sungai yang tercemar, pohon yang ditebang tanpa kontrol,” ujarnya.
Pihaknya menekankan bahwa Pramuka tidak boleh tinggal diam. Peran para pembina sangat besar dalam menanamkan kesadaran dan tindakan nyata kepada peserta didik di gugusdepan.
“Saya berharap kegiatan ini tidak berhenti di sini. Mari kita lanjutkan semangatnya, perluas dampaknya. Ajak adik-adik kita untuk peduli dan bersuara tentang isu iklim. Menjadi tempat belajar dan aksi nyata dalam menjaga lingkungan,” tambahnya.
Ia juga menyampaikan harapan agar kampanye dan aksi adaptasi perubahan iklim dapat digerakkan hingga ke tingkat komunitas, menjadi gerakan kolektif yang berdampak luas.
Bimtek Adaptasi Perubahan Iklim ini, diakhiri dengan pelepasan tanda peserta dan berfoto bersama.



























