YOGYAKARTA — Usai melaksanakan visitasi dan monitoring implementasi modul Adaptasi Perubahan Iklim untuk Kepramukaan (APIK) di SMA Negeri 4 Yogyakarta, Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Daerah Istimewa Yogyakarta (Kwarda DIY) melanjutkan visitasi di Gugus Depan SMP Budya Wacana.
Kegiatan berlangsung di Sleman City Hall dan bertepatan dengan pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dari SMP Budya Wacana.
Rombongan Kwarda DIY yang terdiri dari Kak Dijah Inprijati, Kak Sugeng Wachyono, Andalan Daerah Urusan Lingkungan Hidup, dan Kak Ika Prasetya Dwiantoro (Staf Kwarda), serta Kak Nadia Agnes Rasheesa (PusbangJusinfo) disambut hangat oleh adik-adik Pramuka penggalang dan pihak sekolah.
Dalam sesi kunjungan ini, adik-adik penggalang berkesempatan menjelaskan secara langsung proses latihan dan kegiatan mereka yang telah mengintegrasikan modul adaptasi perubahan iklim ke dalam aktivitas kepramukaan.
Salah satu program unggulan di Gugus Depan SMP Budya Wacana adalah pemanfaatan limbah plastik, seperti galon air bekas, menjadi pot tanaman. Setiap peserta didik diajak untuk menanam dan merawat satu tanaman sebagai bentuk tanggung jawab pribadi terhadap lingkungan.

Selain itu, kegiatan pembuatan pupuk organik juga menjadi fokus utama dalam praktik adaptasi perubahan iklim. Pembuatan pupuk organik ini telah berlangsung selama satu tahun terakhir dengan memanfaatkan sampah organik dari lingkungan sekolah.
Produk pupuk yang dihasilkan oleh adik-adik Pramuka penggalang ini tidak hanya digunakan untuk kegiatan tanam, tetapi juga telah dipasarkan secara internal kepada guru dan orang tua siswa.
Ketua Gugus Depan SMP Budya Wacana, Kak Andhika Ayu Pratisthira, menyampaikan apresiasi dan rasa bangganya atas terimplementasinya program adaptasi perubahan iklim di gugus depan yang sejalan dengan semangat P5, khususnya dalam topik gaya hidup berkelanjutan.

“Program ini tidak hanya membantu mengurangi emisi karbon dioksida, tapi juga memberi kesempatan bagi peserta didik untuk belajar langsung tentang lingkungan hijau dan pengolahan sampah. Ini langkah konkret, bukan sekadar wacana,” ungkap Kak Andhika.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara pendidikan karakter di sekolah dengan pendidikan kepramukaan mampu menciptakan dampak nyata dalam membangun kesadaran dan kebiasaan berkelanjutan bagi generasi muda.



























