YOGYAKARTA — Kak Amik Setiaji, Wakil Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Daerah Istimewa Yogyakarta (Kwarda DIY) Bidang Pembinaan Anggota Muda masa bakti 2025-2030 menjadi narasumber Siaran Kawruh RRI Programa 4 Yogyakarta, Kamis, 18 Desember 2025.
Dalam kesempatan tersebut, Kak Amik mengangkat tema Pembinaan Anggota Muda di Kwarda DIY yang fokus pada target Pramuka Garuda dan Pramuka Istimewa.
Menurut Kak Amik, target pencapaian Pramuka Garuda yang ada di Kwarda DIY perlu diimbangi dengan kapasitas pembina agar semua bisa tercapai sesuai dengan yang telah ditentukan.
“Apabila ada yang belum tercapai targetnya, tentu harus dievaluasi, apa saja kendalanya dan dicarikan solusi terbaiknya,” ujar Kak Amik yang baru saja dilantik pada Senin, 15 Desember 2025 lalu.
Kak Amik menggarisbawahi bahwa di Gerakan Pramuka perlu diperhatikan terkait dengan kurikulum yang adaptable, disesuaikan dengan perkembangan zaman.
Seperti halnya konten Syarat-syarat Kecakapan Umum (SKU) dan Syarat-syarat Kecakapan Khusus (SKK), sekaligus konten Pramuka Garuda dan Pramuka Istimewa.
“Jika bisa diintegrasikan, maka anggota muda Gerakan Pramuka akan bisa menjadi manusia paripurna,” tegasnya.
Menanggapi pertanyaan dari salah satu pendengar radio terkait dengan pelestarian budaya oleh Pramuka, Kak Amik sepakat bahwa untuk menuju hal tersebut saat ini di DIY telah memiliki pedoman Pramuka Istimewa.
Kak Amik menyebutkan, dalam Pramuka Istimewa para anggota muda ini dituntut agar bisa menjaga serta menerapkan adab dan tata krama budaya jawa. Hal tersebut bisa diterapkan secara berjenjang, mulai dari mengetahui, memahami, dan melakukan.
Pihaknya menyebutkan bahwa sekarang sudah sangat sedikit anggota yang memahami bagaimana menggunakan bahasa jawa yang benar, bagaimana nantinya bisa membimbing anggota untuk bisa menggunakannya dengan lebih baik.
“Adab dan tata krama harus diinternalisasi di Gerakan Pramuka; bagaimana mengenakan pakaian; mempertahankan seni dan budaya yang lain. Semua tidak bisa sendirian, berangkat dari Gugus Depan,” jelas Kak Amik.
Tentang Raimuna dan Jambore dilaksanakan, Kak Amik menyebutkan bahwa kegiatan-kegiatan tersebut sudah mengemas kegiatan yang kekinian, tidak hanya wide game, semaphore, atau lainnya. Kegiatannya sudah mengadaptasi penerapan teknologi digital. Anggota/peserta dikenalkan dengan beberapa kegiatan yang ditransformasikan ke digital.
“Seperti Wide Game kini sudah memanfaatkan Google Maps menggunakan gadget, kemudian Morsenya sudah tidak lagi menggunakan peluit, namun dengan alat-alat elektronik,” ujarnya.
Inovasi yang dilakukan dalam Raimuna dan Jambore, peserta diberikan aktivitas dalam rangka menunjukkan kompetensi, juga diarahkan melalui pengabdian masyarakat yang nyata di sekitar lokasi kegiatan.
“Demikian pula dengan perkemahan-perkemahan yang lain seperti Wirakarya juga sudah dilakukan konsep kegiatan yang kekinian,” tegas Kak Amik.
Berkaitan dengan pembinaan anggota, strategi Kwarda DIY dalam memeratakan kualitas pembinaan di setiap wilayah. Secara struktur di Kwarda DIY ada andalan daerah yang fokus pada hal tersebut.
Tidak menutup kemungkinan ada perbedaan kultur dan karakter anggota di setiap daerah. Sebenarnya secara aturan sudah lengkap, namun terkadang para pembina masih belum optimal dalam mengimplementasikannya.
Dalam pelaksanaan pembinaan satuan di Gugus Depan atau Saka, materi-materi yang diajarkan tentu saja tergantung pada kemampuan pembina. Maka dari itu, Kwarda DIY juga fokus pada peningkatan kualitas pembina, agar gap penguasaan materi tidak terlalu jauh.
Perbedaan kompetensi yang ada di anggota muda, terjadi dari model pembinaan di gugus depan. Kwarda DIY akan selalu melakukan monitoring dan mengurangi adanya disparitas atau perbedaan yang ada.
Menurut Kak Amik, ketika SKU dilakukan secara konsisten, karakter anak akan terbentuk di situ. Ketika anggota menempuh Syarat Kecakapan Pramuka Garuda atau Istimewa, karakter mereka sudah pasti akan terbentuk dan terukur.
Berkaitan dengan isu perundungan, Kak Amik menegaskan bahwa berdasarkan survey atau progres dari para pembina yang ada di satuan, anak-anak yang aktif di kegiatan kepramukaan, tidak melakukan perundungan.
“Anggota pramuka akan berfikir dua kali ketika akan melaksanakan perundungan. Dari yang diamati, sampai saat ini
Kemudian bagaimana sinergi antar bidang, dalam menyiapkan pembina dalam mendampingi anggota, Kak Amik meyakini bahwa dalam masa bakti sebelumnya sudah intens dilakukan. Ada juga andalan yang fokus pada kompetensi anggota dewasa.
Dalam alur kepembinaan di Gerakan Pramuka sudah ada jenjang yang bisa dilalui, seperti adanya Kursus Pembina Pramuka Mahir Dasar, Mahir Lanjut, dan juga Pelatih tingkat Dasar dan Pelatih tingkat Lanjut.
Sementara di anggota muda, Kak Amik menjelasakan ada perjalanan bakti sesuai dengan usia, Siaga, Penggalang, Penegak, dan Pandega. Ada aktivitas yang sesuai jenjang. Ketika Penegak/Pandega ada juga wadah yang disebut Dewan Kerja, yang mendukung kegiatan anggota muda di Kwartir.
Menutup siaran kawruh, Kak Amik berpesan bahwa sebagai insan pramuka yang diberi amanah menjadi salah satu pengurus Kwarda maupun Kwarcab atau Dewan Kerja, harus saling bisa mengkomunikasikan problematika pembinaan, baik muda maupun dewasa.
“Fungsi koordinasi, komunikasi, hal-hal yang ketidaksesuaian penyelenggaraan pembinaan, bisa dicarikan solusi, sehingga kegiatan kepramukaan bisa menjadi wadah yang terbaik untuk penyaluran bakat dan minat generasi muda,” pungkasnya. (cst)



























