Di tengah gempuran informasi yang datang tiap detik, satu pertanyaan mengganjal di kepala pengurus Kwarda DIY: seperti apa sebenarnya sosok pewarta istimewa yang mereka butuhkan? Jawabannya bukan wartawan yang cuma modal kamera, motret seremoni, lalu pulang tanpa membawa cerita. Kwarda DIY mencari pewarta yang cekatan membaca situasi, piawai mengolah data jadi tulisan yang enak dibaca, sekaligus paham kapan sebuah momen layak diangkat jadi berita besar.

Urgensinya bukan basa-basi. Banjir informasi di era digital bikin publik makin susah membedakan kabar penting dari laporan seremonial yang lewat begitu saja di linimasa. Kalau kehumasan Pramuka telat beradaptasi, pesan-pesan penting soal kepanduan gampang tenggelam di antara ribuan konten lain. Ujung-ujungnya, masyarakat kehilangan akses ke informasi yang sebetulnya berguna buat mereka, mulai dari kegiatan positif anggota Pramuka sampai program yang sebenarnya bisa mereka ikuti.
Kegelisahan itulah yang mendorong Kwartir Daerah (Kwarda) Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) pada tanggal 1 Agustus 2026 di Kantor Kwarda DIY. Pesertanya bukan sembarang orang. Mereka adalah anggota yang sehari-hari bergelut di bidang kehumasan,dari tingkat Kwartir Cabang se-DIY

Lewat kegiatan ini, Kwarda DIY ingin membekali peserta dengan pemahaman dasar soal tata kelola kehumasan dan komunikasi publik yang bisa langsung dipraktikkan di lapangan. Harapannya sederhana tapi ambisius: kehumasan Pramuka bisa lebih optimal memperkuat organisasi, mendongkrak partisipasi anggota, dan merawat hubungan baik dengan masyarakat luas.
Wakil Ketua Kwarda DIY sekaligus Ketua Bidang Organisasi, Hukum, Perencanaan, dan Pengembangan, Danang Setiadi, S.I.P., M.T., hadir membuka rangkaian bimtek ini. Di hadapan peserta, ia menegaskan kalau peran kehumasan sudah naik kelas dan tidak bisa lagi dipandang sebelah mata.
Menurut Danang, tugas humas bukan cuma soal menyalurkan informasi ke masyarakat. Ada fungsi yang lebih besar di baliknya, yaitu membentuk citra organisasi. Cara Pramuka bercerita ke publik lewat kehumasan pada akhirnya menentukan penilaian masyarakat terhadap Gerakan Pramuka secara keseluruhan, apakah dianggap organisasi yang relevan atau cuma sekadar seremoni belaka.
Masalahnya, kondisi di lapangan belum semulus itu. Ada tiga persoalan yang bikin kerja kehumasan Pramuka belum maksimal. Soal adaptasi digitalisasi jadi yang paling terasa. Teknologi berubah cepat, sementara kesiapan sumber daya kehumasan di berbagai tingkat kwartir belum tentu mengikuti kecepatan itu.

Belum lagi soal sajian berita yang masih berkutat di seputar seremoni. Materi yang dibawakan Ikrob bahkan membedah langsung kondisi nyata di website pramukadiy.or.id: mayoritas berita yang tayang selama ini adalah hasil liputan agenda tanpa perencanaan angle, framingnya melulu soal institusi penyelenggara, bukan hasil atau manfaat program buat masyarakat. Gaya penulisannya pun terlalu serius sampai terasa membosankan. Publik jadi gampang skip informasi yang sebetulnya penting buat mereka ketahui.
Ujung-ujungnya, muncul dilema klasik di kalangan pewarta kehumasan: mau bikin berita yang penting, atau sekadar mengejar target bikin berita. Banyak konten akhirnya dibuat asal jadi, tanpa mempertimbangkan apakah isinya benar-benar berguna buat pembaca, atau cuma jadi arsip dokumentasi yang berakhir di lemari arsip.
Buat menjawab persoalan itu, bimtek menghadirkan tiga narasumber yang masing-masing punya jam terbang tinggi di bidangnya. Sesi dibuka Ikrob Didik Irawan, jurnalis Tribun Jogja, dengan materi penulisan berita. Ia mengenalkan dua kutub cara kerja pewarta. Berita by design, yang direncanakan matang mulai dari tema, pertanyaan, sampai narasumber yang dituju. Berita by accident, yang cuma menunggu kejadian turun dari langit tanpa persiapan apa pun. Menurut Ikrob, ketergantungan pada pola kedua inilah yang bikin arsip berita organisasi terasa monoton dari waktu ke waktu.

Ia membekali peserta dengan tujuh kompas buat menilai layak tidaknya sebuah momen jadi berita: penting, aktual, melibatkan tokoh, mengandung human interest, punya keunikan, dekat secara emosi atau geografis dengan pembaca, dan berdampak luas. Modal ini yang bikin liputan kegiatan bisa naik kelas dari sekadar dokumentasi jadi cerita dengan angle yang jelas.
Soal teknik menggali informasi, Ikrob menekankan pentingnya riset awal sebelum liputan supaya pertanyaan ke narasumber lebih berbobot. Kerangka 5W+1H tetap jadi pegangan pokok, tapi disarankan dipakai secara fleksibel sambil terus mendengarkan jawaban narasumber untuk menemukan sisi cerita yang paling menarik.
Menurut Ikrob, pewarta istimewa yang dicari Kwarda DIY seharusnya tidak malas menulis. Kerja kehumasan Kwarda saat ini masih ada di level dokumentasi kegiatan, sekadar mencatat siapa hadir dan apa yang terjadi. Jam terbang pewarta perlu terus ditambah supaya makin peka menggali sisi lain dari sebuah berita, sisi yang sering luput padahal justru paling menarik buat dibaca.
Ia juga membagikan resep teknis. Judul berita online mesti mampu memikat pembaca dalam hitungan detik, ditulis pakai kata kerja aktif, disisipi kata kunci di bagian depan, dan dijaga di kisaran 60 hingga 70 karakter supaya tidak terpotong di halaman pencarian Google. Judul boleh memancing rasa penasaran, tapi isinya harus tetap jujur menjawab apa yang dijanjikan.
Ikrob juga mengingatkan soal SEO, kata kunci sebaiknya disebar di empat titik utama, yaitu judul, paragraf pertama, subjudul, dan alamat tautan, supaya berita lebih gampang ditemukan mesin pencari. Untuk lead, peserta diminta berhenti membuka berita dengan keterangan waktu dan tempat lebih dulu. Mulai saja dari aksi atau subjek paling menarik, baru detail lain menyusul di tubuh berita. Kalau resep ini dipakai, informasi yang disajikan bisa lepas dari kesan seremonial dan isinya jadi lebih berguna buat masyarakat.

Selepas urusan tulis-menulis, giliran Moch Hafid Arofat, S.Pd., M.A., mengambil alih panggung dengan materi pembuatan konten video. Sebagai konten kreator, ia membuka sesi dengan menyoroti bagaimana TikTok dan Instagram Reels mengubah total cara orang mengonsumsi informasi. Durasi pendek bikin konten gampang ditonton kapan saja, algoritma platform bikin siapa pun berpeluang viral tanpa harus jadi selebritas lebih dulu, dan gaya bertutur visual bikin pesan tersampaikan lebih cepat dibanding tulisan panjang.
Hafid menegaskan viral saja tidak cukup. Konten mesti punya nilai, entah informatif, inspiratif, atau menghibur. Rumusnya sederhana: hook di tiga sampai lima detik pertama, disusul value, ditutup ajakan bertindak alias call to action.
Ia membagikan teknik ATM, amati, tiru, modifikasi, buat proses kreatif mencari ide. Tekniknya bukan sekadar tiru-meniru konten yang viral. Peserta diminta memberi sentuhan khas mereka sendiri di setiap konten yang dibuat. Isu yang diangkat pun tidak boleh sembarangan, harus sedang ramai dibicarakan, berdampak ke masyarakat, dan tetap punya nilai informasi yang akurat, terverifikasi, serta jelas sumbernya.
Soal produksi, Hafid meyakinkan peserta kalau video berkualitas tidak butuh kamera mahal. Cukup modal HP, asal pencahayaan alami diperhatikan, audio terdengar jelas, dan tangan tidak gemetar saat merekam. Naskahnya disusun dengan pola hook, lead, isi, dan penutup, sementara proses editing cukup pakai aplikasi seperti CapCut atau VN, dengan sentuhan subtitle, musik yang sesuai suasana, dan transisi secukupnya, jangan berlebihan.
Untuk video berita pendek secara spesifik, Hafid merangkumnya dalam lima karakter: aktual dan mengangkat peristiwa terbaru, singkat padat dengan durasi ideal 30 sampai 90 detik, visual menarik lewat footage yang relevan, mudah dipahami dengan bahasa sederhana, dan ramah dilihat di ponsel lewat format vertikal. Ia juga mengenalkan formula hook, fakta, penjelasan, dan penutup sebagai kerangka cepat menyusun naskah video berita.
Materinya turut menyentuh sisi fotografi jurnalistik lewat teknik EDFAT: entire buat menangkap suasana keseluruhan lokasi, details buat merekam bagian kecil yang bermakna, frame buat membingkai objek utama, angle buat menentukan sudut pengambilan gambar, dan time buat menangkap momen paling bermakna. Hafid menutup sesi dengan satu kalimat yang cukup menohok, konten video berita bukan soal viral, melainkan soal informasi yang beretika dan aktual.

Materi terakhir dibawakan I Gede Sumitra Jaya, S.I.P., M.P.A., yang mengupas cara membuat konten infografis. Ia menyoroti empat elemen desain yang wajib diperhatikan: warna, teks, tata letak, dan gambar. Empat hal yang kelihatannya sepele, padahal justru menentukan seberapa jauh sebuah informasi bisa dipahami.
Keempat elemen itu, menurut Gede, jadi identitas organisasi di mata publik. Penempatannya tidak boleh asal taruh. Semuanya harus disusun dengan pertimbangan matang supaya informasi yang disampaikan gampang dipahami pembaca sejak pandangan pertama.
Lewat bimtek ini, Kwarda DIY berharap makin banyak pewarta istimewa lahir dari lingkungan Gerakan Pramuka. Sosok yang gesit membaca situasi, jeli menulis berita, piawai bikin konten video, dan paham desain informasi yang komunikatif. Kemampuan sekadar mendokumentasikan kegiatan dirasa sudah tidak cukup untuk menjawab tantangan zaman yang serba cepat ini.
Kalau kemampuan itu makin merata dari Kwartir Ranting sampai Kwartir Nasional, kehumasan Pramuka bisa lebih kuat menghadapi disrupsi informasi. Organisasi jadi makin solid, partisipasi anggota kian tinggi, dan hubungan dengan masyarakat luas pun terjalin makin positif. Ceritanya bukan lagi sekadar foto seremoni yang lewat begitu saja di linimasa, melainkan kisah yang benar-benar sampai ke pembaca.
























