YOGYAKARTA — Kak Anis Ilahi Wahdati tim dari Yayasan Bakti Indonesia Emas menyampaikan penjelasan sekaligus tips penulisan proposal proyek perubahan sosial kepada para peserta Pembudayaan Nilai-Nilai Pancasila, Minggu, 26 Oktober 2025.
Mengawali penjelasannya, Kak Anis menyampaikan beberapa prinsip penggunaan Artificial Inteligent (AI) sebagai sebuah alat pendukung yang dapat memberikan berbagai fasilitasi penulisan proposal di era digital.
Tentu saja, Kak Anis menekankan bahwa sebelum proposal diajukan, harus dilakukan verifikasi manual, memastikan semua sumber valid dan tebaru, sesuai dengan kondisi riil di lapangan, serta menggunakan bahasa yang sensitif terhadap budaya dan etika publik.
Dalam penggunaan AI, Kak Anis menegaskan bahwa manusia tetap menjadi pengendali utama, substansi membawa manfaat nyata bagi masyarakat, tidak merugikan pihak manapun, adil, serta hasilnya dapat dijelaskan secara rasional dan terbuka.
Kak Anis juga menjelaskan peran dan fungsi AI dalam penyusunan proposal perubahan sosial, berkaitan dengan tahapan penulisan serta batasan penggunaannya.
Kemudian Kak Anis juga menegaskan bahwa penulis proposal dengan menggunakan bantuan dari AI perlu mencantumkan pernyataan etika penggunaan AI. Ada contoh juga yang disampaikan dalam paparannya.
Selanjutnya, Kak Anis juga menyampaikan catatan tambahan berkaitan dengan paradigma gerakan perubahan sosial. Tiga paradigma berpikir utama dalam mengelola perubahan masyarakat adalah positivis, konstruktivis, dan kritis.
“Ketiganya mewakili tiga cara pandang epistemologis (cara manusia memperoleh dan memahami pengetahuan) yang berbeda dalam memahami realitas sosial, agen perubahan, dan mekanisme transformasi masyarakat,” ujar Kak Anis.
Namun, lanjut Kak Anis, ketiganya juga tidak saling meniadakan, melainkan dapat dipahami sebagai spektrum cara berpikir yang saling melengkapi tergantung konteks sosial dan tujuan perubahan.
“Agen perubahan adalah anda, fasilitator dan pendamping masyarakat,” tegas Kak Anis.
Di akhir paparannya, Kak Anis menjelaskan resume 3 perbandingan paradigma perubahan sosial (positivis, konstruktivis, dan kritis) yang telah diuraikan sebelumnya.
Selain itu juga ada 3 tahapan perubahan sosial berbasis komunikasi digital yang perlu menjadi perhatian para peserta, yaitu membangun awareness/Kesadaran; Membangun engagement/keterlibatan, serta Conversion/Perubahan nyata/tindakan.
“Seorang pemimpin di era digital, harus mampu mengenali cara berfikir orang (dari paradigmanya) dan mampu mewujudkan perubahan sosial berbasis komunikasi digital,” pungkas Kak Anis. (cst)



























