SLEMAN — Di tengah padatnya aktivitas sebagai mahasiswa, penggiat Pramuka, hingga menyelesaikan skripsi, tak sedikit anak muda yang memilih menunda mimpinya untuk berwirausaha. Namun, hal berbeda ditunjukkan Kak Novia Pitriyani, S.Pd., anggota Racana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Berbekal keterampilan merajut yang awalnya hanya menjadi hobi, ia berhasil membangun Creatify, sebuah brand rajut yang kini dikenal sebagai bagian dari Saka Wirausaha Sleman.
Perjalanan itu tidak dimulai dari rencana besar ataupun modal yang melimpah. Justru, semuanya berawal dari kesenangan sederhana membuat berbagai hasil rajutan untuk digunakan sendiri.
“Aku sebenarnya tidak pernah sadar kalau punya minat besar di dunia wirausaha. Yang aku tahu, aku cuma suka merajut,” tutur Kak Novia.
wanita lulusan Program Studi Pendidikan Matematika tersebut bercerita, hasil rajutan yang sering dipakainya menarik perhatian teman-temannya. Banyak yang memuji, kemudian meminta dibuatkan produk serupa sesuai keinginan mereka. Dari situlah pesanan pertama mulai berdatangan.
Pada masa awal, Novia bahkan belum berani menentukan harga. Ia membiarkan teman-temannya membayar sesuai kemampuan dan kepuasan masing-masing. Terkadang hanya cukup untuk menutup biaya bahan, namun tidak sedikit pula yang memberikan lebih sebagai bentuk apresiasi.
Di balik langkah kecil tersebut, tersimpan rasa malu yang cukup besar.
“Aku sempat overthinking. Malu kalau teman-teman tahu aku jualan. Takut dianggap kelihatan butuh uang,” ujarnya.
Meski demikian, ia memilih mengesampingkan rasa gengsi. Keputusan itulah yang kemudian menjadi titik balik. Seiring waktu, ia mulai menikmati proses berwirausaha karena mampu membiayai hobinya sendiri. Baginya, benang, jarum, dan perlengkapan rajut berkualitas bukanlah barang murah.
Kini, ia mampu menjalani tiga peran sekaligus: mengajar sebagai guru dan tutor bimbingan belajar, tetap menyalurkan hobi merajut di waktu luang, sekaligus memperoleh penghasilan dari karya yang ia cintai.
Belajar dari Pramuka, Bertumbuh Bersama.
Bagi Novia, Gerakan Pramuka memiliki kontribusi besar dalam membentuk keberaniannya memulai usaha. Namun, ia memandang nilai-nilai yang dipelajari di Pramuka dengan cara yang realistis.
“Di Pramuka aku justru belajar bekerja sama. Manusia itu makhluk sosial. Tidak semua pekerjaan harus dikerjakan sendiri,” katanya.
Ia juga mengaku bukan sosok yang selalu memaksakan diri ketika menghadapi kesulitan.
“Kalau memang aku merasa tidak sanggup, aku memilih menyerahkan kepada orang yang lebih mampu. Itu juga bagian dari mengenali kapasitas diri,” ungkapnya.
Meski demikian, jiwa kewirausahaan justru tumbuh kuat selama aktif di Pramuka. Berbagai pengalaman seperti kegiatan usaha dana, pelatihan kewirausahaan, penyelesaian Syarat Kecakapan Umum (SKU), hingga keterlibatannya di bidang usaha dana menjadi bekal penting yang menumbuhkan keberanian untuk menjual karya sendiri.
Sebelum memiliki brand rajut, Novia telah beberapa kali mencoba berjualan berbagai produk, mulai dari makanan hingga minuman. Pengalaman tersebut membuatnya semakin percaya diri ketika akhirnya memasarkan hasil rajutannya kepada masyarakat.
Kemampuan merajut yang dimiliki Novia juga bukan diperoleh secara instan. Saat masih menempuh pendidikan di Madrasah Aliyah di Jawa Barat, ia mengikuti kegiatan peminatan merajut setiap Sabtu sore. Ketertarikannya muncul setelah melihat hasil karya pembinanya berupa amigurumi berbentuk buah dan sayuran yang menurutnya sangat menarik. Ia kemudian mengikuti kegiatan tersebut selama hampir dua tahun sejak duduk di kelas XI pada 2019.
Pada masa itu, penggunaan telepon genggam di lingkungan madrasah sangat dibatasi sehingga proses belajar dilakukan secara konvensional. Para peserta mempelajari teknik merajut sekaligus membaca pola yang diberikan pembina.
Setelah kembali ke rumah, Novia melanjutkan proses belajar secara mandiri melalui berbagai video tutorial.
Perpaduan antara pembelajaran langsung dan latihan otodidak membuat kemampuannya berkembang pesat. Kini, ia bahkan mampu menyusun pola rajut sendiri tanpa bergantung pada contoh yang sudah ada.
Kemampuan tersebut kemudian menjadi fondasi lahirnya Creatify, brand yang kini menjadi identitas karya-karyanya sekaligus bagian dari binaan Saka Wirausaha Sleman.
Di balik berkembangnya usaha tersebut, Novia juga harus menghadapi tantangan membagi waktu.
Ketika masih menjalani perkuliahan, ia memanfaatkan waktu di luar jadwal kelas untuk menerima dan mengerjakan pesanan.
Masa penyusunan skripsi menjadi fase yang paling berkesan.
“Kalau lagi pusing skripsi, aku malah larinya ke merajut. Karena sering mengalihkan stres ke merajut, produknya jadi banyak,” ujarnya.
Meski harus menambah satu semester studi, pengalaman tersebut justru menghasilkan banyak karya yang kemudian terjual untuk membantu memenuhi kebutuhan biaya pendidikan.
Saat pesanan datang bersamaan dengan aktivitas yang padat, Novia memilih membangun sistem kolaborasi. Ia bekerja sama dengan beberapa perajin rajut di Yogyakarta sehingga pesanan pelanggan tetap dapat diselesaikan tepat waktu setelah lebih dahulu dikomunikasikan dengan pemesan.
Baginya, menjaga kepercayaan pelanggan jauh lebih penting daripada memaksakan mengerjakan semuanya sendiri.
Inspirasi Bagi Generasi Muda Pramuka.
Perjalanan Kak Novia menunjukkan bahwa kewirausahaan tidak selalu lahir dari modal besar atau pengalaman bisnis sejak awal. Keberanian memulai dari hobi, kemauan terus belajar, serta lingkungan yang mendukung menjadi kunci utama dalam membangun usaha.
Nilai-nilai yang diperoleh selama aktif di Gerakan Pramuka juga menjadi bekal penting untuk membangun kolaborasi, mengembangkan kreativitas, dan berani mengambil peluang.
Melalui Creatify, Novia berharap semakin banyak anggota Pramuka berani mengembangkan potensi yang dimiliki menjadi karya yang bernilai ekonomi tanpa meninggalkan proses belajar dan pengabdian.
Kisahnya menjadi bukti bahwa sebuah hobi yang ditekuni dengan sungguh-sungguh dapat tumbuh menjadi ruang berkarya, membuka peluang usaha, sekaligus menginspirasi generasi muda untuk terus produktif dan mandiri.(AHMAD/LA)



























