KULON PROGO — Belasan anggota Pramuka Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) turut berpartisipasi dalam Seminar Jejak Peradaban Resiliensi Budaya pada Era Disrupsi yang digelar oleh Keraton Yogyakarta, Sabtu, 6 Desember 2025.
Bertempat di Hotel Morazen Yogyakarta, Jalan Nasional III Yogyakarta – Purworejo, Kulon Progo, seminar ini menghadirkan para narasumber dari beragam latar belakang, yang terumpun dalam empat panel berbeda.
Keempat panel tersebut adalah (1) Jamu dan Jampi, Kesehatan Holistik Modern; (2) Perak dan Pertumbuhan Perhiasan Modern; (3) Budaya Visual dan Aplikasi Kreatif; dan (4) Berjumpa dengan Rijsttafel.
Sesuai jadwal, usai seminar, para peserta akan diajak untuk mengikuti Tour Desa Wisata mulai pukul 16.00 dengan titik kumpul di Lobby Hotel Morazen Yogyakarta dengan destinasi ke Rumah Arsip Kliripan ex Tambang Mangan, Andana Gula Semut proses pengolahan gula.
Dengan mengikuti seminar ini tentu saja para pramuka yang terdiri dari anggota Dewan Kerja dan purna Dewan Kerja tersebut diharapkan dapat memahami Konsep Disrupsi dan menjadi sadar tentang apa itu disrupsi (teknologi, sosial, dan lainnya).
Bagaimana disrupsi ini dapat memengaruhi kehidupan dan kelestarian budaya, sehingga mereka dapat merencanakan antisipasi dan langkah aksi nyata.
Setidaknya, 15 Pramuka DIY yang mengikuti seminar ini juga bisa bertambah wawasannya tentang “Jejak Peradaban”, menumbuhkan rasa cinta tanah air sebagaimana implementasi dari Dasa Darma, serta tanggung jawab untuk melestarikan warisan budaya.
Selain itu, mereka juga diharapkan bisa menganalisis bagaimana budaya-budaya tertentu bisa lestari (resilien) atau punah. Ini melatih Pramuka untuk memecahkan masalah dan menilai suatu informasi/fenomena secara mendalam.
Bukan itu saja, dengan pemahaman tentang resiliensi budaya, Pramuka dapat mengambil peran aktif dalam kegiatan Pengabdian Masyarakat untuk membantu melestarikan atau mengadaptasi nilai budaya di komunitasnya.
Kemudian juga bisa mempelajari berbagai peradaban dan budaya membantu Pramuka menghargai perbedaan dan mempraktikkan sikap persatuan (bhinneka tunggal ika), sejalan dengan Kode Kehormatan.
Yang tidak kalah penting, mereka bisa bertemu dengan akademisi, budayawan, dan sesama peserta seminar membuka peluang untuk menjalin jaringan, yang berguna untuk proyek-proyek sosial dan kegiatan Pramuka di masa depan. (cst)



























