YOGYAKARTA — Data keanggotaan yang lengkap dan mutakhir diperlukan untuk mendukung pelaksanaan pembinaan Gerakan Pramuka di Daerah Istimewa Yogyakarta. Melalui data yang tercatat dengan baik, kwartir dapat melihat kondisi anggota dan pembina serta menyusun program sesuai kebutuhan di masing-masing wilayah.
Hal tersebut disampaikan Kakak Dr. Lukman Awaludin, S.Si., M.Cs., Andu Teknologi, Data, dan Sistem Informasi Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Daerah Istimewa Yogyakarta, dalam program Siaran Kawruh RRI Pro 4 Yogyakarta, Kamis (17/09/2026). Siaran yang berlangsung pukul 09.00–10.00 WIB tersebut mengangkat tema “Pemutakhiran Data, Penguatan Pembinaan Pramuka” dengan membahas kondisi keanggotaan Gerakan Pramuka DIY berdasarkan data Sistem SISKA.
Berdasarkan data SISKA Kwarda DIY per 16 September 2026, terdapat 259.882 anggota Pramuka yang tersebar pada 2.613 gugusdepan. Sebanyak 246.728 di antaranya merupakan anggota muda dan 13.002 anggota dewasa. Rasio anggota dewasa terhadap anggota muda secara keseluruhan tercatat sekitar 1:19. Dalam siaran tersebut, Kak Lukman menyampaikan bahwa data keanggotaan perlu diperbarui secara berkala agar kondisi yang tercatat dalam sistem sesuai dengan keadaan di gugusdepan. Pemutakhiran SISKA perlu dilakukan secara rutin mulai dari gugusdepan. Data anggota baru, perubahan golongan, pencapaian SKU, kualifikasi pembina, hingga anggota yang sudah tidak aktif perlu diperiksa dan disesuaikan dengan kondisi terbaru.
Dalam siaran juga disampaikan bahwa data yang kosong tidak selalu berarti orang atau kegiatannya tidak ada. Beberapa bagian dalam SISKA masih memerlukan kelengkapan pencatatan. Karena itu, angka yang tampil dalam sistem perlu dibaca bersama dengan kondisi sebenarnya di lapangan. Selain kelengkapan, pengelolaan data juga perlu memperhatikan keamanan dan pelindungan data pribadi, khususnya karena sebagian besar anggota Pramuka merupakan anak dan remaja. Data anggota digunakan untuk kepentingan organisasi dan pembinaan serta harus dikelola secara bertanggung jawab.
Selain itu dalam siaran, Kak Lukman juga mengangkat pemikiran Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Bapak Pramuka Indonesia, yang memimpin Kwartir Nasional pada periode awal perkembangan Gerakan Pramuka. Pada masa kepemimpinannya, Gerakan Pramuka diarahkan sebagai wadah pembentukan watak generasi muda dan memiliki pola kerja yang terencana.
Semangat tersebut sangat relevan dengan pengelolaan Gerakan Pramuka saat ini. Organisasi yang memiliki anggota dalam jumlah besar memerlukan perencanaan yang baik dan didukung data yang sesuai dengan keadaan di lapangan. Dalam materi siaran disebutkan bahwa perencanaan berjangka yang dikembangkan pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono IX membutuhkan data dasar yang akurat sebagai bahan penyusunan program.
Pada akhir siaran, Kak Lukman menyampaikan bahwa data tetap merupakan alat untuk membantu pembinaan. Perubahan pada peserta didik tetap lahir dari kehadiran pembina, kegiatan yang dilakukan secara berkelanjutan, dan keteladanan yang diberikan. Data membantu kwartir mengetahui bagian yang masih kekurangan pembina, mengetahui anggota yang tidak lagi melanjutkan kegiatan, serta menentukan bagian yang membutuhkan perhatian.
Menutup siaran, Kak Lukman mengajak pramuka di DIY dan pengurus hingga gugusdepan untuk terus memperbarui data anggotanya.
“Mutakhirkan data anggota. Bukan karena diminta kwartir, tetapi karena setiap nama yang di-entri adalah satu anak yang tidak jadi hilang dari perhatian kita.”
Pesan tersebut sekaligus mengakhiri perbincangan selama satu jam di RRI Pro 4 Yogyakarta tentang pemutakhiran data dan penguatan pembinaan Pramuka DIY.

























