YOGYAKARTA — Kemah Bakti (Mahabakti) XXXVII Pramuka MAN 1 Yogyakarta diselimuti kehangatan dan semangat. Upacara Api Unggun menjadi salah satu adat paling bermakna dalam kegiatan perkemahan, Jumat, 13 Juni 2025.
Upacara berlangsung di Lapangan Utama Bumi Perkemahan Girikaton yang dihadiri oleh Pembina, Guru, Pembantu Pembina, Purna Ambalan dan diikuti oleh seluruh peserta Mahabakti XXXVII.
Kak Asti Nabilla Kaufizahra membuka upacara dan Kak Umar Abdul Aziz yang bertindak selaku MC. Selanjutnya, Pemimpin upacara memasuki lapangan dan memimpin seluruh pasukan untuk memberikan penghormatan kepada sesepuh api unggun.
Prosesi ini menegaskan pentingnya peran pemimpin dalam mengarahkan dan mempersatukan peserta. Rangkaian upacara dilanjutkan dengan pembacaan Dasa Darma oleh sepuluh Dewan Ambalan 25 secara bergiliran. Setiap pembaca membawa obor yang menyala dan menyalurkan api tersebut kepada pembaca berikutnya.
Kak Muhammad Amin, sesepuh api unggun menyampaikan amanatnya. Kak Amin menegaskan bahwa api yang menyala dalam api unggun bukanlah untuk disembah.
“Ia adalah makhluk Allah, ciptaan-Nya yang memiliki makna dan pelajaran tersendiri,” ujarnya.
Lebih lanjut, Kak Amin menyampaikan bahwa jika diperhatikan, susunan kayu dalam api unggun saling menopang dan menyatu, hingga akhirnya memancarkan cahaya yang terang.
“Ini menjadi simbol bahwa persatuan dan kesatuan di antara kita akan menghasilkan cahaya manfaat bagi banyak orang,” imbuhnya.
Kak Amin mengutip sabda Rasulullah, Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama. Maka dari itu, pihaknya mengajak seluruh peserta menjadikan kegiatan ini sebagai momen untuk memperbaiki diri, mempererat persaudaraan, dan meningkatkan kepedulian.
“Jangan lupa, teruslah berbuat baik kepada siapa pun, di mana pun, dan kapan pun,” pungkasnya.
Upacara dilanjutkan dengan pembacaan doa sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Penutupan upacara dilakukan dengan laporan dari pemimpin upacara kepada Sesepuh Api Unggun dan penghormatan terakhir sebelum sesepuh meninggalkan lokasi.
Prosesi penyalaan api unggun ini tidak hanya tentang kebersamaan, tetapi juga sebagai pembelajaran bagi seluruh peserta. Karena kebersamaan tidak akan pudar walau ditelan waktu.
Namun, Terkadang kita berada di ambang kebimbangan karena impian semu. Disitulah dibutuhkan kehadiran seorang pemimpin, pemimpin yang bisa mengarahkan kita dalam menjalani kehidupan.
Melalui upacara ini, kita dipersatukan dalam semangat dan tujuan, menumbuhkan jiwa-jiwa muda yang siap memimpin dengan cita dan tekad yang kuat.



























