BANTUL — Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Bantul menggelar Workshop Menulis Puisi Pramuka di Aula Unit II Kompleks Perkantoran Manding, Bantul, Kamis, 1 Mei 2025.
Kegiatan yang dibuka secara resmi oleh Kak Emi Masruroh, Ketua Kwarcab Bantul tersebut diikuti oleh 135 peserta, yang terdiri terdiri dari 112 utusan 17 Kwarran se-Kwarcab Bantul dan 21 dari unsur Kwartir Cabang Bantul.
Workshop ini didukung oleh Komunitas Yuk Menulis yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan literasi anggota pramuka, khususnya dalam pembuatan puisi bertema aktivitas pramuka yang membahagiakan.
Materi workshop yang dilaksanakan selama kurang lebih 3 jam tersebut disampaikan oleh Kak Sutanto, Andalan Cabang Kwarcab Bantul yang juga anggota Komunitas Yuk Menulis.
Kak Sutanto mengawali paparan materinya dengan menyampaikan pengertian dasar dari puisi. Yaitu merupakan karya sastra yang mengungkapkan perasaan dan ide melalui bahasa yang indah dan imajinatif.
“Puisi mengutamakan irama, rima, diksi, dan makna mendalam,” ujar Kak Sutanto.
Beberapa langkah dalam pembuatan puisi bertema pramuka disampaikan oleh Kak Sutanto. Antara lain, menentukan tema, menentukan pesan yang ingin disampaikan, mengumpulkan kata kunci, menyusun kerangka puisi, dan kemudian merangkai kata-kata.
Ada beberapa pilihan kata menarik yang dicontohkan oleh Kak Sutanto, misalnya api unggun, sandi rahasia, tali-temali
Api unggun, sandi rahasia, lencana kehormatan, jejak kaki di tanah basah, ngin malam, hujan rimba, kompas harapan, bersahaja, setia kawan, juga berani jujur.
“Pilihan kata dari syair lagu juga bisa dijadikan kata kunci. Misalnya tubuhku terguncang, dihempas, hati tergetar, terpaku, menatap langit, menyelimuti matahari, menggapai, siramilah jiwa,” sebut Kak Sutanto.
Kak Sutanto menggambarkan dalam sebuah puisi ada bagian awal yang menggambarkan suasana; bagian tengah bisa tentang perjalanan, tantangan, dan semangat; serta bagian akhir yang bisa berisi simpulan makna.
Dalam merangkai sebuah puisi, Kak Sutanto memberikan arahan dapat menggunakan majas, bisa personifikasi, metafora, atau simile. Selain itu juga dapat menggunakan irama yang enak dibaca.
“Biarkan emosi terasa alami,” tegasnya.
Adapun tips yang dibagikan Kak Sutanto dalam menulis sebuah puisi antara lain dapat menggunakan pengalaman pribadi, membayangkan suasana kegiatan, tidak takut bereksperimen dengan kata.
Para peserta workshop kemudian diminta untuk dapat membuat satu puisi bertema pramuka serta mengajak 10 peserta didiknya masing-masing. Ketentuannya adalah puisi terdiri dari 8 sampai 12 baris, setiap baris berisi 4 sampai 6 kata.
“Isi puisi tidak mengandung ujaran kebencian, pornografi, atau SARA,” jelas Kak Sutanto.
Kemudian ketentuan lainnya adalah karya puisi tidak boleh plagiat, berpedoman pada Kamis Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bersedia untuk melakukan revisi. Untuk penulisannya menggunakan jenis huruf times new roman ukuran 12. (cst)



























